Shattered Glass, Film Jurnalistik Yang Bercerita Tentang Hoax

Kanesia.com – Berita merupakan kebutuhan yang utama dewasa ini. Berita disajikan kepada publik berdasarkan fakta dan dengan mengedepankan integritas dan kebenaran. Namun seringkali berita yang kita konsumsi tiap hari yang hadir di beranda media sosial kita adalah berita hoax dan kita sulit membedakan mana fakta dan mana bukan. Pengertian hoax menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu kata yang berarti ketidak benaran suatu informasi. Untuk memahami bagaimana sebuah berita hoax menjadi momok ditengah persaingan media, kami rekomendasikan film Shattered Glass yang diangkat dari kisah nyata.

Film Shattered Glass sebuah film drama Amerika-Kanada 2003 yang ditulis dan disutradarai oleh Billy Ray. Permainan latar tersebut berdasarkan pada sebuah artikel September 1998 dari Vanity Fair buatan H. G. Bissinger. Dalam artikel tersebut, ia mengisahkan tentang karier jurnalistik Stephen Glass’ di The New Republic pada pertengahan 1990an dan kejatuhannya ketika kecurangan jurnalistiknya terungkap.

Stephen Glass menjadi jurnalis terbaik dan memiliki nama yang gemilang setelah dirinya mampu menulis berbagai berita menarik untuk koran tempat dia bekerja

Steve, panggilan akrab dari jurnalis muda ini kemudian mendapatkan popularitas di rekan kerja dan media lainnya. Popularitas media The New Republic juga ikut naik berkat liputan dan artikel-artikel yang ditulis oleh Steve. Namun ini barulah awal dari masalah yang dibuat oleh seorang jurnalis muda ini.

Kasus mulai datang saat beberapa pihak mulai mempertanyakan soal beritanya yang dianggap menyudutkan. Michael Kelly (Hank Azaria) editornya mencoba selalu melindungi Stephen Glass, terutama dari pihak David Keene yang terus mencoba mempertanyakan soal kualitas tulisan Glass. Glass telah mengakui dirinya melakukan satu kesalahan dari tulisannya, tetapi tidak berarti seluruh beritanya adalah kesalahan. Glass mengaku hanya memiliki satu kesalahan sedangkan tulisan lainnya merupakan sebuah kebenaran.

Kasus memuncak saat Steve menulis “Hack Heaven” tulisan keempatnya tentang hacker yang diliput secara eksklusif olehnya. Hacker muda yang mampu mendapatkan pekerjaan menarik setelah berhasil meretas keamanan dari sistem sebuah perusahaan. Penasaran dengan ceritanya, salah satu jurnalis media Forbes, Adam Penenberg mencoba untuk mencari tahu soal kebenaran ceritanya dan menemukan tidak ada satupun fakta terkait hacker ini dan kemudian memunculkannya ke The New Republic untuk diproses. Steve yang mulai disudutkan dengan berbagai pertanyaan melindungi dirinya sendiri dengan mengatakan dirinya memang tidak datang ke acara para hacker yang dimaksud, melainkan mendapatkan informasi tersebut dari sumber yang terpercaya. Hal ini kemudian berujung pada keputusannya untuk mencoba membangun kepercayaan bagi surat kabarnya terhadap dirinya.

Editor Baru The New Republic, Chuck Lane yang menggantikan editor Michael Kelly yang percaya kepada klarifikasi steve di liputan sebelumnya. Kali ini Chuck tidak tinggal diam setelah mendapat gertakan dari media saingannya, Forbes akan menerbitkan artikel terkait kebohongan yang dituliskan The New Republic jika mereka tidak melakukan permintaan maaf kepada publik terkait kebohongan yang mereka terbitkan dan menarik artikel yang telah beredar tersebut.

Chuck menelusuri liputan yang dilakukan oleh Steve mengenai konferensi hacker. Sang Editor mendapati kejanggalan dari Steve setelah ia mendatangi lokasi gedung konferensi yang ditunjukkan steve dan menanyakan kepada petugas gedung. Kecurigaan Chuck semakin besar saat Steve mengatakan bahwa ia ditipu oleh narasumbernya dengan tujuan menaikkan popularitasnya. Chuck akhirnya menyimpulkan bahwa semua artikel yang ditulis oleh Steve tidak berdasar pada fakta.

SHATTERED GLASS, Hayden Christensen, Peter Sarsgaard, 2003, (c) Lions Gate

Chuck Lane sebagai editor yang memiliki integritas tinggi akhirnya menerbitkan permohonan maaf kepada publik mengenai artikel yang ditulis oleh Steve pada liputannya mengenai Hack Heaven setelah melakukan voting dan kesepakatan dengan semua staffnya. Tak hanya permohonan maaf, The New Republic juga menarik semua artikel yang pernah ditulis oleh Steve meski menanggung rugi dengan menurunnya popularitas The New Repulic.

Stephen Glass diberhentikan dari meja kerjanya, dan setelah ditelusuri lebih jauh, dari 47 artikel yang ditulis Steve, 21 diantaranya merupakan karangan fiktif yang tidak valid. Stephen Glass yang telah mengakui kebohongannya kemudian menekuni profesi barunya sebagai penulis novel dan kemudian menerbitkan buku berjudul The Fabulist. Novel ini kemudian menjadi ide cerita dari film Shattered Glass ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *