Sepenggal Tradisi, Dibalik Kecantikan Gadis Mentawai

Kanesia.com – Hakikat perempuan adalah Kecantikan. Menjadi cantik merupakan dambaan setiap perempuan, karena ia terlahir dengan fitrah kecantikan dan menyukai keindahan. Untuk menunjukkan eksistensinya, perempuan membutuhkan pengakuan bernama kecantikan, sebagai bagian yang melekat utuh dalam dirinya.

Persepsi modern saat ini, kecantikan telah dilibatkan sebagai komoditi keindahan fisik. Memiliki tubuh yang sempurna, berkulit eksotis, hingga beragam cara berdandan demi memuaskan mata para penikmatnya. Mendefinisikan cantik mengarahkan pada subjektifitas dan keniscayaan terhadap perbedaan. Setiap orang dapat mendefinisikan rasa, pandangan atau kekaguman terhadap objek khas tertentu, tergantung pada dimensi dia hendak mempersepsikan kecantikan.

Indonesia adalah negara dengan sejuta budaya. Dibalik keberagaman budaya itu, terdapat tradisi nusantara yang mengekspresikan diri dalam simbol kecantikan. Suku Mentawai salah satunya. Terletak di pedalaman pulau Sumatra, Gadis Mentawai membingkai pola kebiasaan dalam tradisi kecantikan yang sangat unik. Tradisi ini bernama Kerik Gigi atau seringkali disebut praktik meruncingkan gigi bagi gadis suku Mentawai.

Tradisi Kerik Gigi dilakukan gadis mentawai sebagai cara mempercantik diri dan menjadi simbol kedewasaan seorang gadis. Mereka memiliki kepercayaan unik bahwa wanita yang beranjak dewasa akan lebih terlihat cantik jika memiliki bentuk gigi yang runcing. Gadis dengan gigi runcing akan lebih digilai pria-pria di sekitarnya. Membawa pada keindahan hakiki dimata lawan jenisnya.

Tidak hanya kecantikan, Gadis Mentawai meyakini tradisi Kerik Gigi sebagai jalan pengantar bagi jiwa menuju Kedamaian. Mengantarkan mereka pada dunia yang berbeda dengan tafsir kehidupan abadi hingga melekatkannya pada nilai luhur nenek moyang yang terus terjaga. Pesona kecantikan Gadis Mentawai muncul dari keyakinan bahwa untuk memperoleh kebahagiaan, keinginan jiwa harus sejalan dengan bentuk tubuh. Setiap langkah akan menghadirkan pesona bagi lelaki yang memandangnya.

Kerik Gigi dimaknai sebagai lambang perjuangan menemukan jati diri bagi Gadis Mentawai. Meskipun prosesi Kerik Gigi sangat menyakitkan, namun setiap gadis akan berusaha melalui setiap kesakitan sebagai bagian dari identitas perjalanan. Prosesi ini tanpa pembiusan atau (anastesi). Bahkan alat yang dipakai untuk ritual ini tanpa melalui proses sterlisasi. Prosesnya dilakukan oleh pimpinan adat, gigi mereka akan dikerik menggunakan sebuah alat yang terbuat dari besi atau kayu yang sudah mereka asah hingga tajam.

Inilah sepenggal tradisi dibalik kebiasaan Gadis Mentawai mencapai makna kecantikan seseungguhnya. Kecantikan adalah anugerah. Namun, cantik yang paling hakiki adalah kecantikan yang tidak hanya memancarkan keindahan melainkan kecantikan yang menjadikan wanita berdamai dengan dunia sekitarnya.

Jadi apa lagi yang perlu dipertanyakan dari kecantikan. Setiap wanita mungkin bisa bangga dengan fisik sempurnanya. Namun, sepenggal tradisi dari pedalaman Sumatera sedikit banyak mengajarkan kita, bahwa kecantikan memiliki definisi yang berbeda-beda dan sangat filosofis. Cantik wajah memang indah dilihat, tetapi cantik hati akan jauh lebih terpancar. Berpenampilan sederhana, bersikap lemah lembut, sopan santun, hingga menjadi wanita mandiri akan memancarkan kecantikan lebih.

 

 

Fahri Ardiansyah Tamsir
dimuat juga pada www.Infobudaya.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *