Sekolah Berujung Bodoh

Kanesia.com – Tujuan fundamental pendidikan ialah mencerdaskan kehidupan bangsa. Ujung tombak melahirkan manusia-manusia kompeten guna menciptakan sebuah bangsa yang besar. Tak hanya itu, seolah menjadi prasyarat mutlak sosial masyarakat, sebagian besar bahkan memposisikan pendidikan sebagai alat ukur menilai strata di masyarakat. Turut melegitimasi pandangan konservatif atas sejumlah teori yang nampaknya belum terbantahkan. Siapa yang memperoleh gelar strata tertinggi, dialah yang merajai peradaban dan mereka di strata terbawah, baginya hanya ucapan selamat tinggal.

Entitas pendidikan adalah sekolah. Suatu ruang ilmiah mendidik anak. Tempat menanamkan perilaku positif, mengajarkan pengetahuan, dan juga menghapus kebodohan dengan cara mengubah orang bodoh menjadi pintar.  “Siapa yang tidak ingin pintar, semua orang pasti mendambankannya”, itulah sepenggal kutipan dongeng lama yang selalu dikumandangkan para pendidik tanpa perlu untuk melihat sejauh mana batas jangkauanya.

Alhasil, tidak sedikit dari kita terjebak pada keingingan semu belaka. Berbondong-bondong berlomba mengejar prestasi terbaik, namun tak sadar kita sebenarnya sedang berada di tengah kebodohan masing-masing, karena apa yang kita harapkan tidak ditunjang oleh lingkungan pendidikan.

Sadar atau tidak, kita sebenarnya terjerumus pada persoalan sama. Kita yang sejatinya menginginkan kecerdasan melalui sekolah, karena saat ini kita pada label bodoh, tetapi di sisi lain sekolah tak sepenuhnya mampu mewujudkan keinginan itu.  Coba lihat sekolah-sekolah kita, kebanyakan ia hanya memilih siswa yang benar-benar cerdas sejak awal. Mulai dari instrumen seleksi masuk sekolah, baik berupa test tertulis ataupun lisan, yang disajikan untuk menentukan apakah kita bodoh atau pintar.

Siswa dengan nilai test terbaik, pastinya mendapatkan jatah kursi duduk di sekolah. Sedangkan mereka dengan nilai terendah tidak berhak dijejali pengetahuan layaknya siswa nilai teratas dan mengharuskan mereka mencari sekolah lain khusus orang-orang bodoh agar dapat tetap bersekolah. Artinya, tidak semua sekolah mencari orang bodoh untuk dibuat pintar.

Sangat ironis, sekolah akan terasa rumit bagi orang-orang bodoh sejak awal. Sekolah bukan lagi referensi tempat menghapus kebodohan. Sekolah hanya memilih orang pintar sejak awal untuk dididik. Berharap fungsi paralel dapat berlaku bagi semua kalangan, namun justru pendidikan membatasi itu. Sekolah belum menunjukkan totalitas mendidik, tapi menyeleksi anak dengan dua kualifikasi berbeda, bodoh dan pintar. Ibarat hutan rimba, mungkin sekolah merupakan ajang seleksi alam, bisa menjadi momok menakutkan, dan menghantui anak bahkan sebelum ia resmi masuk sekolah.

Hasil seleksi orang-orang pintar tersemat sekolah unggulan dan sekolah khusus orang-orang bodoh malah sebaliknya. Sekolah unggulan memiliki gengsi selangit, favorit kebanyakan anak-anak. Di dalamnya terdapat fasilitas serba lengkap, ditambah dengan kualitas guru yang mumpuni. Apapun yang siswa butuhkan dalam menunjang proses pembelajaran, kemungkinan besar akan mampu terpenuhi di sekolah ini.

Berbanding terbalik dengan sekolah khusus orang bodoh dengan sejuta paradoks, hidup segan mati tak mau. Berbekal sumber daya seadanya, namun harus menerima kenyataan menghadapi kumpulan anak-anak bodoh sejak awal yang kebodohannya berusaha dihapuskan. Antara gengsi dan kewajiban pun dipertaruhkan, demi pemenuhan prestisuis tujuan pendidikan yakni mencerdaskan anak bangsa.

Ini seolah beranomali, siswa yang pintar sejak awal justru diberikan fasilitas sekolah berstandar unggulan sedangkan mereka yang memang bodoh sejak awal justru diperhadapkan pada fasilitas yang serba cukup. Padahal konteks kognitif anak belum sepenuhnya dapat dinilai hanya melalui lembaran test ujian masuk sekolah, karena taraf perkembangan kemampuan anak baru saja akan dimulai dengan proses sekolah.  Jadi jangan heran, kesenjangan antara orang pintar dan bodoh akan semakin jauh. Karena sejak kecil kita telah berada dalam sistem yang mengkategorisasi.

Hasilnya, sekolah unggulan akan terus menjadi unggulan karena mereka menjadi teratas karena sejak awal mereka memang mendidik orang-orang pintar, bukannya orang bodoh. Namun sial, bagi mereka sekolah non unggulan, tetap menjadi tertinggal bahkan sangat tertinggal karena menghadapi realitas sebaliknya.

Sehingga pertanyaan yang sesungguhnya patut dipertanyakan. Siapakah sekolah yang benar-benar mendidik anak berdasarkan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Yang tugas utamanya benar mendidik dan menemukan kepantasan intelektual bagi anak-anak. Tanpa memandang mereka adalah bodoh dan pintar sejak awal. Tetapi, selama ia adalah warga negara, ia harusnya patut dipersamakan untuk sama-sama dicerdaskan melalui atribut yang sama.

Ketimpangan ini, lantas siapa yang perlu dipersalahkan. Jawabannya hanya kita yang tahu. Kadang kita justru terlalu asik menertawakan kebodohan atau karena posisi kita mungkin sedang terlalu cerdas. Berlarut-larut mengabaikan hal substansial dibalik proporsi yang terjadi.

Hakikat sekolah bukan membuat peringkat namun membuat kompetensi. Bukan mencari pintar atau bodoh, namun mencari anak wajib didik. Tiada pengecualian dalam pendidikan, sebab semua anak tidak bisa dikecualikan. Esensi dasar sekolah ialah menghapus kebodohan.

 

Fahri Ardiansyah Tamsir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *