Pemuda Dalam Pusaran Korupsi dan Intoleransi

Kanesia.com – Selama ini ada anggapan bahwa anak muda dapat menjadi harapan dan darah segar dalam pemberantasan korupsi di dunia birokrasi dan politik Indonesia yang sudah akut. Nyatanya beberapa politisi muda dan birokrat muda ditangkap karena kasus korupsi. Generasi anak muda atau yang lebih dikenal dengan generasi millenial ini juga dianggap dapat menjadi penjaga keberagaman di Indonesia dibandingkan sifat konservatif generasi lama karena pemikiran terbuka mereka yang dipengaruhi teknologi informasi.

Nyatanya, dalam kasus kontroversial yang menimpa Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok, banyak generasi muda yang terlibat dalam aksi berjilid. Bahkan menurut Prof.Mahfud MD, banyak anak muda yang mengidolakan tokoh radikal. Tapi anggapan bahwa anak muda dapat mejadi harapan tersebut bukanlah pepesan kosong.

Menurut Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia, idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda. Idealisme itulah yang akan menjaga pemuda dari tindakan korupsi dan sikap intoleransi. Lalu mengapa beberapa orang diatas sampai terjerat oleh korupsi dan memiliki sifat intoleransi dan bagaimana cara mengatasinya?

KORUPSI

Menurut saya, korupsi diakibatkan oleh biaya politik yang sangat mahal mulai dari mahar dan biaya kampanye sehingga membuat calon terpilih harus mencari uang untuk menutup biaya kampanye apabila terpilih. Selain itu godaan kekuasaan dan godaan suap dari pihak luar juga menjadi faktor dari eksternal. Oleh karena itu, celah korupsi harus dihilangkan mulai dari hulu hingga hilir. Sedari awal, para kontestan yang mengikuti pemilihan umum harus memiliki integritas yang teruji dari rekam jejak maupun diuji oleh panelis.

Kedua, para kontestan harus membuat batas maksimal alokasi pengeluaran yang mereka bisa keluarkan. Idealnya, batas maksimal ini tidak melebihi dari pemasukan yang akan mereka dapatkan ketika sudah terpilih. Jika setelah perhitungan yang matang ternyata dibutuhkan dana yang lebih besar maka masyarakat dapat memberikan sumbangan yang sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Hal ini telah teruji oleh Jokowi-JK dan Ahok-Djarot. Sumbangan dari masyarakat juga dapat diasumsikan bahwa masyarakat menanamkan saham kepada si calon berupa dana (selain suara) agar masyarakat memiliki ‘rasa kepemilikan’ terhadap calon tersebut.

Terakhir adalah transparansi ketika telah terpilih. Saya sangat tertarik dengan ide dari Ahok ketika menjabat menjadi Gubernur DKI Jakarta. Saat itu dia memposting pemasukan dan pengeluarannya agar dapat dilihat masyarakat. Dia juga selalu mengatakan untuk melihat gaya hidup pejabat dan dikroscek dengan pemasukannya. Peran partai pegusung juga sangat penting disini, karena jika kadernya tertangkap, maka citra partai juga yang terpuruk. Bekerja sama dengan aparat penegak hukum seperti Komisi Pemberantasan Korupsi juga dapat dilakukan.

Toleransi

Sifat toleran harus diajari sejak dini kepada anak. Pusat penitipan anak Wackelzahn, Düsseldorf, Jerman menanamkan nilai-nilai toleransi kepada anak dengan membawa mereka mengunjungi rumah-rumah ibadah beragam keyakinan. Di beberapa tempat di Indonesia, hal seperti ini sudah dilaksanakan namun hanya terjadi dengan inisiatif pribadi. Pemerintah harus menjadi penggerak dengan menjadikannya gerakan nasional. Walau demikian, peran orangtua sangat vital karena orangtua adalah guru pertama yang dapat memberikan landasan sikap anak terhadap pentingnya toleransi.

Bagaimana jika toleransi tidak diajari sejak dini? Saya sendiri adalah seorang yang lahir di keluarga Kristen dan bersekolah dari TK hingga SMA di sekolah Katolik sehingga saya hanya memiliki teman dengan agama dan suku yang sama. Ketika saya berkuliah di Semarang, saya mendapati kebiasaan-kebiasaan dari teman yang berbeda keyakinan dan ras. Awalnya saya merasa aneh karena tidak terbiasa bergaul dengan teman yang berbeda dari sisi suku dan keyakinan.

Meskipun demikian, pada akhirnya saya menjadi terbiasa dan dapat merayakan keberagaman karena saya mengetahui pentingnya toleransi melalui pemberitaan media, tokoh agama, dan lainnya sebelum saya merasakan langsung perbedaan tersebut. Oleh karena itu penting bagi semua pihak untuk terus menyuarakan pentingnya kerukunan beragama agar pihak-pihak yang belum mengetahui ataupun memiliki sifat intoleran dapat mengetahui pentingnya keberagaman dan mempraktekkan sifat toleran di dalam kehidupan bermasyarakat.

 

Pangeran Indra Pasaribu
Alumni Universitas Diponegoro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *