OTT KPK Jerat Bupati Nganjuk Taufiqurrahman

Kanesia.com, Jakarta – Lembaga Anti Rasuah KPK dikabarkan kembali melakukan operasi tangkap tangan (OTT). Kali ini, seorang kepala daerah dan beberapa orang pihak lain ikut terciduk oleh operasi senyap di wilayah Jawa Timur itu.

Berdasarkan informasi, Bupati Nganjuk Taufiqurrahman turut ditangkap KPK. Sejauh ini, KPK juga membenarkan terkait adanya operasi tangkap tangan itu. Selain itu, dikabarkan ada 9 orang yang ditangkap KPK. Mereka dibawa ke Polres Nganjuk untuk menjalani pemeriksaan awal.

Sang Bupati ditangkap karena diduga menerima suap dari beberapa pihak di lingkungan kerjanya.

”Terkait setoran-setoran dari kepala dinas dan kepala sekolah,” papar sumber yang dihimpun dari jawapos.com.

Dari uang hasil setoran-setoran tersebut, nantinya, akan digunakan untuk kepentingan politik keluarganya. ”Rencana buat nyalon bupati istrinya,” imbuh sumber tersebut.

Sementara itu, KPK sendiri saat belum memberikan respons saat berusaha dikonfirmasi oleh sejumlah pihak. Menurutnya, saat ini tim masih berada di lapangan untuk menggali keterangan dari para pihak yang berhasil diamankan.

Taufiqurrahman merupakan Bupati Nganjuk dua periode yang menjabat pada 2008-2013 dan 2013-2018. Namun , pada akhir 2016, dirinya sempat ditetapkan oleh KPK tersangka kasus korupsi APBD Nganjuk 2009-2015. Perkara itu adalah perkara limpahan dari Kejaksaan.

Taufiq diduga terlibat dan mengintervensi pengerjaan 5 proyek pembangunan infrastruktur di Nganjuk pada tahun 2009.  Proyek yang dimaksud yakni jembatan Kedungingas, proyek rehabilitasi saluran Melilir Nganjuk, dan proyek perbaikan Jalan Sukomoro sampai Kecubung.

Kemudian, proyek rehabilitasi saluran Ganggang Malang, dan yang terakhir, proyek pemeliharaan berkala Jalan Ngangkruk ke Mblora di Kabupaten Nganjuk.

Atas kasus tersebut, Taufiq disangka melanggar Pasal 12 huruf i dan Pasal 12 B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Namun, penetapan status tersangka itu akhirnya batal, setelah Taufiqurrahman mengajukan gugatan praperadilan ke Pengadilan Jakarta Selatan yang  sekaligus mengabulkan gugatan Taufiqurrahman tepatnya pada Maret 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *