Norman Borlaug, Sang Revolusioner Peraih Nobel Perdamaian

Kanesia.com – Kata Revolusi, kini menjadi kosakata pop yang hampir kita temui di ladang-ladang perjuangan. Atas dasar definit, kebanyakan mengasosiasikannya sebagai proses terjadinya suatu perubahan secara cepat. Bahkan arti penggunaan katanya kerapkali diekspolitasi ke dalam makna yang sarat dengan tindakan kekerasan.

Namun, pengertian itu tidak melulu bisa disalahkan kebenarannya. Karena sejatinya, konteks perjuangan memang tidaklah selalu sama dalam suatu ruang dan kasus. Begitu halnya dengan cerita dibalik romantisme revolusi pangan, yang mungkin telah lama pudar dan bahkan terdengar asing di telinga. Tapi demikianlah, kisah yang pernah dilakukan oleh Norman Borlaug seorang agronom yang berasal dari keluarga petani. Berjuang atas nama diksi revolusi pangan.

Krisis pangan sebuah negara bisa saja terjadi dan tidak mustahil dialami dalam kurun waktu yang sangat cepat. Hal yang tentu akan berdampak ke segala sektor jika tidak ada upaya yang sangat serius dari para ahli untuk meprediksi dan memberikan langkah nyata untuk mengatasinya.

Krisis pangan bukanlah hal yang sepele. Dampak yang ditimbulkan tak kalah serius dari kirisis keuangan. Dampaknya bisa saja membuat negara manapun bisa colaps. Sejarah krisis pangan dunia tercatat pernah dialami oleh negara-negara di benua asia seperti india, filipina di tahun 1960-an dan sebelumnya juga pernah di alami oleh Meksiko pada tahun awal 1940-an.

Ancaman kelaparan dan penurunan produktifitas produk pangan ini telah disadari oleh banyak kalangan tak terkecuali seorang Norman Borlaug. Lalu siapakah yang masih tahu tentang  Norman Borlaug ini, apa sumbangsihnya terhadap persoalan krisis pangan dunia.

Norman Borlaug dengan nama lengkap Norman Ernest Borlaug adalah seorang biologiwan, agronom dan fillantrop yang lahir di sebuah daerah bernama Cresco, Iowa pada 25 Maret 1914. Ia dilahirkan dan dibesarkan dari keluara petani yang sederhana.

Borlaug melewati masa kecilnya dengan pendidikan langsung dari keluarga petani imigran dari Norwegia di frontier Amerika yang sangat bersahaja, mungkin ini jugalah yang mengilhami kehidupan Borlaug kecil hingga dewasa. Sekolah dasar hingga sekolah menengah dilewati secarah penuh di tempat kelahirannya bersama teman dan saudaranya di Cresco dan setelah itu Borlaug memutuskan melanjutkan studinya ke Universitas Minnesota.

Tak cukup disitu, apa yang sebenarnya dilakukan oleh Borlaug sehingga ia mendapatkan penghargaan dunia berupa hadiah Nobel kategori perdamaian pada tahun 1970. Dimana hal tersebut merupakan kali pertama dalam sejarah, seorang ahli pertanian menerima nobel dalam kategori perdamaian.

Sejarah mencatat bahwa di tahun 1960-an, Borlaug menawarkan kepada dunia sebuah ide luar biasa untuk mengatasi krisis pangan lewat sebuah penelitian untuk mendapatkan viarietas gandum unggul yang berbuah lebat dan tahan terhadap hama penyakit. Penelitian ini menghasilkan penemuan yang fenomenal dan ini merupakan awal sebuah revolusi yang dikenal dengan sebutan revolusi hijau, sebuah perubahan produktivitas pertanian yang memengaruhi perkembanmgan serta inovasi pertanian di banyak negara termasuk Indonesia.

Revolusi Hijau

Borlaug pada tahun 1937 menyelesaikan studi akhirnya dengan gelar akademik Ph.D di bidang fitopatologi dan genetika pada tahun 1942 di Universitas yang sama yakni Universitas Minnesota ketika menyelasaikan studi awalnya di bidang biologi di tahun 1937. Sebagaimana Rizal Mallarangeng melukiskan Borlaug dalam essainya “Dari Langit” bahwa Borlaug memulai pengembangan pertanian di Meksiko di bawah bantuan dan dorongan dari Professor Stakman untuk meneluarkan  Meksiko dari sebuah krisis pangan.

Penelitian dan pengembangan Borlaug saat itu mendapat bantuan pendanaan penuh dari The Rockefeller Foundation. Waktu yang ditempuh oleh Borlaug juga realtif lama untuk menyelesaikan risetnya menemukan varietas tanaman gandum yang dihasilakan melalui persilangan demi persilangan.

Borlaug menghabiskan 20 tahun tinggal di meksiko. Bersama tim dan dorongan profesor Stakman dari hari ke hari melalui ketekunan dan kerja keras, Borlaug tak menyerah untuk menemukan bibit gandum yang lebih tahan hama dan produktif dari ribuan bibit yang telah disilangkan.

Temuan Borlaug yakni varietas gandum yang dihasilkan dari persilangan bibit jenis gandum jepang Norin-10 dengan beberapa varietas gandum di Meksiko dan Amerika yang dimana varietas hasil temuannya menghasilkan butir gandum yang lebihg banyak, lebat serta tidak mudah gugur ketika diterpa angin dan juga lebih adaptif kepada lingkungan tanamnya. Tentunya hal ini bukanlah hal yang mudah dalam sebuah disiplin ilmu filantropi dan genetika.

Selain penemuan varietas gandum yang unggul tersebut, Borlaug juga sukses mengembangkan penerapan metode dan terobosan yang lebih efektif dimana persilangan secara mudah dilakukan dalam jumlah yang banyak dan waktu penyilangan yang relatif singkat sehingga usaha dan metode itu dikenal dengan istilah Shuttle-Breeding.

Penerapan riset pertanian dan pengembangan komoditi gandum unggul di Meksiko ini merupakan awal dari usaha meciptaakan revolusi hijau.  Borlaug berhasil membawa Meksiko di tahun 1950-an keluar dan terbebas dari krisis pangan, ancaman kelaparan dan mampu melakukan swasembada pangan sendiri.

Keberhasilan Borlaug di Meksiko ini secara cepat terdengar hingga ke negara India yang memang pada saat itu sedang mengalami permasalahan krisis di bidang pertanian dan pangan. India juga pada saat itu sangat berantung oleh kiriman jutaan ton gandum dari Amerika Serikat.

Oleh penasihat Menteri Pertanian India M.S. Swaminathan, Borlaug kemudian diundang untuk membantu India mengatasi segala persoalan di bidang pangan dan pertanian melalui kesuksesan risetnnya di Meksiko. Meskipun di India pada awalnya usaha ini sempat mengalami hambatan dari birokrasi sehingga ruang geraknya terbatas namun setelah akhirnya perang antara India dan Pakistan meletus, upaya yang sungguh-sungguh untuk memulai Revolusi Hijau akhirnya mendapat angin segar. Ribuan ton bibit baru dari Meskio didatangkan kemudain disebarkan keseluruh daratan India.

Selain itu berkat kecerdikannya, Borlaug berhasil mengajak pemerintah India untuk memperbaharui kebijakan pertaniannya dengan membantu petani dalam urusan harga agar dapat sesuai kemudian juga memberikan perluasan kredit kepada petani.

Dalam usaha itu lambat laun pemerintah India akhirnya melihat hasil nyata dari apa yan dilakukan oleh Borlaug  sehingga mampu melepaskan diri dari jepitan nasib buruk. Pada tahun awal 1970-an India tak lagi mendapatkan ancaman kelaparan massal sebagaimana yang pernah terjadi. Begitupun juga dengan Pakistan yang lebih awal mencapai keberhasilan dua tahun sebelumnya pada 1968.

Revolusi Hijau terjadi, India dan Pakistan menjadi pilot project keberhasilannya dan hal tersebut  direspon cepat oleh negara-negara lainnya di Asia temasuk Indonesia. Melalui lembaga Internsional Rice Research Institute atau disingkat IRRI yang dibentuk oleh The Rockefeller Foundation dan The Ford Foundation menghasilkan jenis atau varietas baru yang tidak terbatas pada gandum saja tetapi juga pada tanaman padi yang cocok dengan iklim dan suhu di negara Asia tenggara. lemabaga IRRI Kemudian menjadi ujung tombak swasembada pangan di Asia yang didirikan di Los Banos, Filipina. Indonesia juga merasakan hasil kerja keras dari Borlaug dan Revolusi Hijaunya pada pertengahan tahun 1980-an.

Nobel Perdamaian

Mengutip Rizal mallarangeng dalam essainya tentang Norman Borlaug, Rizal mengatakan bahwa karena revolusi hijau, dunia tidak lagi terancam oleh bahaya kelaparan permanen, kecuali oleh penyebab-penyebab yang bersifat ad-hoc dan temporer, seperti terjadinya konflik bersenjata, musim ekstrem dan sebagainya. Belum pernah dalam sejarah manusia ketahanan pangan yang demikian dapat dicapai. (Rizal Mallaraneng; Kumpulan essai, Dari Langit, hal. 263).

Dan pada akhirnya dunia mengagumi karya Borlaug dalam membantu manusia terbebas dari ancaman kelaparan, krisis pangan berkepanjangan dan tentunya memberikan pelajaran kepada kita semua bahwa optimisme kemanusiaan bisa dilahirkan dalam bentuk karya pengetahuan masing-masing Individu sebagaimana ia yakini dalam dirinya.

Berkat upaya kemanusiaannya, dunia menberikan penghargaan berupa Hadiah Nobel pada tahun 1970 dan ini merupakan kali pertama dalam sejarah seorang ahli pertanian mendapatkan hadiah Nobel dalam kategori perdamaian, karena sebelumnya yang mendapatkan hanya dari kalangan politisi, pemimpin dunia, akivis lembaga perdamaian dan pahlawan perang.

Akhirnya dari semua capaian Borlaug dan kepeduliannya terhadap permasalahan pangan dan kemanusiaan, kita dapat menjadikannya inspirasi untuk masa depan dimana tantangan dan hambatan serta peluang semakin besar untuk dihadapi. Bagi Borlaug ini semua mengharuskan kita untuk terus bergerak optimis akan adanya harapan umat manusia di masa mandatang. Untuk terus melakukan pengembangan ilmu pengetahuan agar menjadi solusi dari tiap permasalahan kemanusian kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *