Ngeseks Ala Birokrasi

Kanesia.com – Seks, itu istilah kata yang acapkali mampir di telinga pasangan muda-mudi yang tengah dilanda asmara. Tentu hukumnya jadi haram, bagi mereka yang belum terikat janji suci, bernama pernikahan. Namun sebaliknya, bagi kedua pasangan dengan ikatan resmi secara agama, ia dapat bebas merdeka, dengan masing-masing gaya favorit, boleh melakukannya. Selama dibubuhi rasa cinta dan kasih sayang.

Kegandrungan pengetahuan mengenai seks, menyebakan pertanyaan seputar seks pun kerapkali dilontarkan. Di jelajah internet, beragam situs web mengatasnamakan konsultasi dokter banyak menyediakan rubrik soal itu. Bisa saja, itu cara untuk menjawab rasa penasaran atau memang menjadi suatu kebutuhan pribadi. Namun bagi saya, itu cukup beralasan, karena seks bisa membantu menjaga keintiman dan romantika hubungan rumah tangga.

Bagaimana cara melakukan seks yang sehat, berkualitas, nyaman dan membuahkan kepuasan. Pertanyaan demikian, sering nongol di kolom komentar beberapa website. Hasilnya, tiga teratas jawaban populer menawarkan rekomendasi untuk dicoba. Pertama, seks sebaiknya diawali dengan pemanasan atau yang dikenal sebagai foreplay. Kedua, dilakukan dengan beragam gaya, tidak kaku dan membosankan. Ketiga, lakukanlah komunikasi kepada pasangan.

Sekilas melihat jawaban di atas, tentu bukan perkara sulit untuk dilakukan. Tak lebih lebih sulit ketika harus menjawab soal aljabar dan aritmetika pada lembar ujian. Juga tak lebih sulit ketimbang harus menguasai tiga bahas asing sekaligus. Tapi terkait dari beberapa pengakuan, tak sedikit dari mereka gagal melakukannya.

Memperbincangkan kesulitan-kesulitan, saya lantas teringat kejadian sepekan lalu. Ketika saya hendak mengurus perizinan usaha di salah satu kota. Sebut saja kota X (disamarkan). Pada awalnya, untuk menutupi ketidaktahuan saya terkait prosedur izin disana, saya kemudian membaca dan mencermati prosedur perizinan melalui situs pemerintah. Hasilnya pun tidak mengecewakan. Informasi yang saya dapatkan cukup membuat lega. Setidaknya bahwa perizinan usaha dapat dituntaskan tak lebih dari dua minggu berdasarkan SOP yang kontennya tertera jelas di website.

Semangat pun menyelimuti. Berharap untaian pernyataan itu bukan hanya janji-janji. Layaknya janji kebanyakan para politisi yang berebut dominasi. Saya pun akhirnya bertandang ke dinas setempat, setelah memastikan semua kelengkapan berkas telah tergenggam dan rampung. Tak membutuhkan waktu lama, isian formulir hingga tarif izin telah saya tuntaskan, dan selanjutnya tinggal menunggu waktu terbit untuk surat tanda jadi perizinan.

Hari berganti minggu, kabar perizinan tak juga menampakkan batang hidungnya, yang katanya akan dikonfirmasi melalui pesan email. Tak sedikit pula, saya meluangkan waktu untuk sekedar mengecek secara langsung, sejauh mana proses perizinan telah diselesaikan. Namun, hasilnya nihil, alasan utama terkendala dipanjangnya proses birokrasi. Hingga sebulan lebih, saya tak urung mendapat kepastian jelas.

Harus diakui, tak sedikit masyarakat pasti mengalami kejadian serupa. Di tengah-tengah akselerasi pembangunan tentu ini menjadi kendala. Tak pelik, jika pidato presiden Jokowi selalu menghimbau agar pelayanan publik tak lagi menjadi ruwet. Birokrasi yang gemuk, panjang, kaku, dan berbelit-belit salah satunya.

Permasalahan tersebut cukup mencemaskan. Misalnya, bagi orang seperti saya dan sebagian masyarakat lainnya yang membutuhkan kepuasaan akan pelayanan publik. Mungkin, bisa sama cemasnya, ketika pasangan suami istri gagal menciptakan romantisme melalui hubungan intim di atas ranjang.

Tampaknya, birokrasi kita harus banyak belajar. Tak terkecuali dari pelajaran bagaimana cara melakukan hubungan seks. Karena terdapat konteks dimana tujuan keduanya sedikit mirip yakni bagaimana mencapai kepuasan. Tidak hanya seks, birokrasi juga mestinya harus sehat, berkualitas, nyaman dan membuahkan kepuasan. Maka tips berhubungan seks bisa jadi akan sangat relevan dengan persoalan birokrasi hari ini.

Pertama, untuk menciptakan hubungan seks yang harmonis sebaiknya dimulai dengan pemanasan/foreplay. Ini dilakukan untuk meningkat gairah, rileks dan semangat sebelum melangkah ketahap selanjutnya (inti/core). Begitu halnya birokrasi, guna menciptakan pelayanan berkualitas tak semudah hanya menyuruh satu dua orang melontarkan senyuman sembari menyambut kedatangan costumer. Birokrasi juga membutuhkan gairah dan semangat sebaik dengan berhubungan seks.

Pemanasan dalam konteks birokrasi bertujuan mempersiapkan pelayanan publik yang berkualitas. Ada beragam cara yang dapat ditempuh. Jika pemanasan ala seks dapat dilakukan dengan rayuan, sentuhan, rabaan dan ciuman. Birokrasi juga punya varian cara tersendiri dalam pemanasan. Seperti menerapkan merit system, konsep ‘the right man on the right place’, rightsizing maupun downsizing melalui struktur organisasi dalam birokrasi, diklat aparatur dan sebagainya. Hal ini dilakukan, agar pelaksanaan pelayanan publik dapat lebih cepat, efektif, dan efisien nantinya.

Kedua, dalam berhubungan seks, sebaiknya dilakukan dengan beragam gaya posisi, agar cenderung tidak kaku dan membosankan. Birokrasi pun harus belajar dari cara demikian. Mengapa birokrasi terlihat kaku dan monoton ? tak lain disebabkan karena minimnya inovasi dan gaya. Inovasi bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik dengan menciptakan kebaruan (novelty), sehingga mampu berkembang seirama dengan pesatnya perubahan lingkungan.

Inovasi sangat identik dengan berfikir out of the box. Karenanya, inovasi sering dikonotasikan sebagai tindakan di luar ketentuan atau bahkan cenderung menerobos rambu sebagai perbuatan melawan hukum. Namun berinovasi sejatinya ialah mengembangkan ide kreatif, menghilangkan rigiditas, dan membuat pemerintahan bisa lebih dinamis. Begitu halnya, aktivitas keintiman pasangan suami istri, bisa dilakukan dengan macam gaya seperti missionaris, doggy style, posisi 69 dan sebagainya.

Ketiga, komunikasi dalam hubungan seks penting untuk dilakukan. Komunikasi antar pasangan bertujuan untuk membangun penghargaan dan pemahaman satu sama lain, sehingga pasangan merasa ia bukan hanya sekedar pemuas nafsu belaka. Berkat komunikasi, segala aktivitas seks akan lancar terlaksana, nyaman dan kepuasaan dapat dicapai kedua pasangan. Cerminan ini bisa jadi merupakan pelajaran penting bagi birokrasi.

Salah satu penyebab kegagalan birokasi memberikan kepuasan kepada masyarakat tak lepas dari aspek komunikasi. Hubungan horizontal yang meliputi komunikasi top-down sering putus di tengah jalan. Mengakibatkan ketidakjelasan kewenangan dan tumpang tindih regulasi. Begitu juga dengan hubungan vertikal yang sama peliknya. Tidak juga lepas dari lilitan ego. Membuat komunikasi jadi terhambat yang berujung pada pelayanan yang lamban.

Sekali lagi, birokrasi benar-benar perlu melakukan reformasi. Agar tidak kalap menentukan target pencapaian. Masyarakat tidak boleh dibuat bingung, apalagi resah. Kalau memang pemerintah bersungguh-sungguh mencita-citakan Pemerintahan Kelas Dunia (World Class Government), maka salah satu lini yang wajib dibenahi adalah urusan pelayanan publik.

Maka berbahagialah, bagi kalian yang ngeseks sebaik yang telah dianjurkan. Tidak hanya sekedar penetrasi dan klimaks yang melelahkan. Tetapi belajar bagaimana proses yang benar, sehat, nyaman dan berkualitas agar keadilan di atas ranjang tidak lagi sekedar wacana. Toh, di luar kamar kalian, sosok bernama birokrasi juga masih harus belajar, memuaskan masyarakat melalui pelayanan publik.

 

Oleh : Fahri Ardiansyah Tamsir
Alumni Fisip UNHAS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *