Feature : Mengingat Morowali Sekali Lagi

Kanesia.com, Morowali Utara – Hari itu cuaca dingin. Air hujan masih berbekas di papan dermaga teluk Tomori. Seorang lelaki dan anaknya yang masih kecil sibuk memancing menebar umpan. Mereka terlihat sangat bahagia di kota kecil ini.

Kolonodale berada di wilayah Sulawesi Tengah. Untuk sampai di sini dibutuhkan waktu kurang lebih delapan belas jam dari Makassar. Melalui jendela kaca yang berembun oleh pendingin udara, saya menghabiskan malam di atas Bus. Menyeberangi danau matano dengan kapal kecil lalu kembali melewati jalan darat yang tidak ramah di Desa Nuha, hingga tiba di pusat ekonomi dan pemerintahan Kabupaten Morowali Utara, Kolonodale.

Jalan Poros menuju Marowali Utara/ Hidayat Awaluddin

Kesan pertama setelah tiba di daerah ini adalah para ‘perantau’. Mendatangi Kabupaten penghasil batu marmer ini pada pertengahan Agustus, saya lebih banyak berjumpa dengan para pendatang, dari berbagai macam suku dan daerah. Misalnya saja, para pedagang di pasar minggu Kolonodale.

“Saya pesan dua bungkus bu,” tanya saya kepada seorang penjual gado-gado. “Pedas atau tidak dek?”, jawab Ibu itu tanpa berpaling dari ulekannya. “Tidak, bu,” membalasnya.

Saya refleks merespon agar gado-gado saya tidak dibuat pedas oleh perempuan paruh baya itu, yang cueknya minta ampun. Sama seperti perempuan yang telah lama saya kenal, yang entah di mana dan bersama siapa saat ini. Nah loh.

Tak berselang lama ibu itu kembali nyerocos, katanya, Ia bisa menebak seseorang dari seleranya memesan gado-gado. “Biasanya orang bisa ditebak. Kalau dia suka pedas, berarti orang itu pemarah,” ujarnya. Karena penasaran, saya lalu balik bertanya, “Kenapa bisa begitu bu?” jawab saya.

“Yah, di sini orang yang sering pesan gado-gado pedas kebanyakan orangnya pemarah,” mendengar itu, saya hanya mengiyakan sambil tersenyum. Kemudian, kembali bertanya tentang Kolonadale.

“Ibu disini penduduk asli?”, sontak ia menjawab “Oh bukan. Saya dari poso dek, saya perantau,tapi asli dari Malili,” ujarnya.

Sembari menunggu pesanan selesai, saya mengambil jeda mengecek telpon genggam kali saja ada sms nyasar, yang isinya seperti saya harapkan. Namun, bukan itu yang datang, tapi seorang ibu yang tak sempat saya tahu namanya tiba-tiba bertanya kepada saya. “Darimana dek?” tanyanya terlihat heran sambil memperhatikan saya membawa ransel.

Dermaga teluk Tomori / Hidayat Awaluddin

“Saya dari Makassar bu” tak henti disitu ia kembali bertanya. “Kerja disini? Mau kemana bawa tas besar begitu?” lanjutnya. “Saya sedang mengunjungi seorang teman disini,” sanggah saya dan tak membiarkan ibu itu melanjutkan rasa penasarannya. Saya balik bertanya “Ibu disini kerja juga bu?” Dia menjawab dengan panjang lebar “Oh tidak. Suami saya kerja disini, di pertamina, baru 4 bulan, tapi serasa sudah empat tahun” ujarnya.

Saya kemudian heran dengan pernyataan ibu yang satu ini. Saya menanggapinya dengan sedikit tertawa kecil. “Kok bisa bu?” lanjut saya memancing agar ia bercerita.

“Iya. Di sini susah dan semua kebutuhan pokok mahal dan disini tidak ada mall, bulan depan saya mau pindah ke Palu,” katanya dengan nada keluh. “Di sini juga listrik selalu padam dan kalau cuci pakaian, keringnya lama karena selalu hujan,” lanjutnya.

Saya tidak tinggal diam, saya menimpali dengan mengatakan kalau disini bagus, karena cuacanya dan pemandangannya indah. Ia menyanggah “Tidak, daerah ini sunyi. Saya tidak betah” ujarnya. Sampai di situ ibu penjual gado-gado tadi ikut nimbrung dengan percakapan kami. “Iya bu, disini kacang panjang mahal. Untuk beli seikat saja itu lima ribu,” ucapnya.

Tak sampai di situ ibu penjual gado-gado ini juga kembali bercerita kalau ia sebelumnya merupakan pengungsi dari kerusuhan di Poso beberapa tahun silam. “Saya tingkalkan poso waktu kerusuhan, pulang ke malili baru berdagang, sudah 8 tahun saya tinggal disini,” katanya sembari memasukkan dua bungkus gado-gado ke dalam kresek.

Setelah itu, saya kemudian mengambil dompet dengan niat untuk membayar pesanan itu. Tapi ternyata ibu yang tadi sepertinya tidak ingin antri, Ia malah mengambil pesanan saya. Saya pun mempersilakan.

Sampai disitu saya kembali memerhatikan sekitar pasar ini yang semakin ramai. Sambil menunggu saya berjalan meninggalkan ibu penjual tadi ke arah penjual lainnya lalu mengambil dua-tiga gambar melalui kamera telpon genggam. Dan, setelah menunggu beberapa menit, pesanan saya selesai dan saya pamit dengan ibu penjual tadi.

Dalam perjalanan pulang, saya tak hentinya memikirkan dialog singkat di pasar tadi dan membayangkan apa saja tentang Morowali Utara. Karenanya, dalam hati saya bertanya mengapa ada orang datang dari tanah jauh kemudian betah menetap lama sementara ada juga yang tak suka berada di bibir pulau Sulawesi ini. Namun, pada akhirnya saya sampai pada kesimpulan, bahwa perantauan adalah cara mengenali daerah ini.

Laporan : Hidayat Awaluddin, Morowali Utara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *