Mengaku Keponakan Kapolri, Wanita Ini Kantongi Rp 1,7 Miliar

Kanesia.com, Jakarta – Pihak kepolisian menangkap seorang perempuan cantik bernama Titin Hendiko setelah terlibat aksi kriminal. Tak tanggung-tanggung, dalam aksi berkedok penipuan ini, ia mengaku keponakan dari orang nomor satu di jajaran Kepolisian, Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Pelaku menjalankan aksinya dengan berperan sebagai calo pada rekrutmen anggota Polri tahun 2017. Kapolda Jawa Tengah Irjen Condro Kirono pun membenarkan peristiwa itu.

Menurut Condro, modus yang dilakukan pelaku adalah mengiming-imingi orang tua korban yang ingin anaknya menjadi polisi. Syarat agar si anak lulus jadi polisi, maka orang tua korban harus membayar sejumlah uang kepada pelaku. Saat si anak dinyatakan lulus oleh pelaku, orang tua korban menyerahkan sejumlah uang.

Agar aksinya tidak ketahuan, pelaku menggunakan KTP palsu atas nama Tryas Tyndria. Pelaku juga berhasil menipu sejumlah korban dengan total kerugian diperkiran 1,7 miliar.

Tak berselang lama, jejak penipuan Tintin akhirnya terungkap pihak kepolisian. AKBP Nugroho Agus Setiawan yang merupakan Kapolres Purbalingga mengatakan aksi penipuan Titin berhasil dibongkar jajaran Polres Purbalingga dan telah mengamankan beberapa barang bukti.

Adapaun kronologi penangkapan pelaku dilakukan pada minggu 29 Oktober 2017, Pukul 11.30 WIB. Penangkapan ini dimulai dari penyelidikan Polres Purbalingga terhadap dugaan tindak pidana penipuan dengan modus perekrutan tamtama, bintara Polri, dan PNS dan mengaku sebagai keponakan Kapolri yang diduga dilakukan Titin.

Berdasarkan informasi yang didapatkan, pelaku saat itu mengemudikan Toyota Harrier bernopol D-1177-AS ke arah Ajibarang. Kemudian petugas Satreskrim didampingi Kasat Reskrim Polres Purbalingga serta dibantu anggota Reskrim Polres Banyumas mengamankan pelaku, kemudian dilakukan penangkapan terhadap pelaku.

Kapolres Purbalingga mengungkpakan, pelaku melancarkan aksinya sejak 12 Februari hingga 29 Oktober 2017.

Berikut korban penipuan pelaku Titin Hendiko :

1. Suyanto, 54 tahun, PNS, alamat Desa Kalimanah Kulon RT 02/02 Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga

2. Darsun bin Sanmukim, 26 tahun, PNS, alamat Desa Candinta RT 03/07 Kecamatan Kutasari, Kabupataen Purbalingga

3. Eko Sugeng bin Dartam Darmosuwito, umur 50 tahun, Polri, alamat Desa Jompo RT 01/01 Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga

4. Solikhun bin Mardiyano, 43 tahun, swasta, alamat Desa Babakan RT 11/03 Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga

5. Rochinah binti Rochadi, 51 tahun, pedagang, alamat Desa Blater RT 01/03 Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga

6. Bariati, 48 tahun, pedagang, Desa Candinata RT 14/7, Kecamatan Kutasari, Kabupaten Purbalingga

7. Awaludin Sidik, 31 tahun, Desa Candinata, Kutasari, Kabupaten Purbalingga

8. Arif Susilo, 26 tahun Desa Candinata, Kutasari, Purbalingga.

Pencatutan Nama Kapolri

Aksi penipuan dengan mengatasnamakan Kapolri bukan terjadi kali ini saja. Pada kasus sebelumnya, aksi penipuan kerapkali menjerat sejumlah pelaku yang berdalih mengenal orang nomor satu di jajaran Kepolisian itu.

Pada Januari 2017 lalu, polisi berhasil meringkus tersangka Suparman (60) dan Raden Hafis (40) dari LSM Suhu Indonesia.  Keduanya memeras kepala desa di Banyuasin dengan mencatut nama nama Tito Karnavian.

Modus kedua pelaku tersebut dengan mendatangi korban yang saat itu menjadi terlapor kasus penipuan jual-beli lahan plasma di Polsek Mariana. Tersangka mengatakan bisa menutup kasus tersebut dengan syarat korban harus menyerahkan uang Rp. 30 juta untuk dititipkan ke Kapolri.

Tidak hanya nama Tito Karnavian yang pernah dicatut oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk melakukan aksi penipuan. Kapolri Jenderal Sutarman saat menjabat juga pernah merasakan hal yang sama. Akhmad Subkhi melakukan penipuan dengan mengaku sebagai kerabat Badrodin.

Kejadian berawal saat seorang wanita memperkenalkan korban bernama Tedy dengan Akhmad Subkhi pada Oktober 2014. Selanjutnya, Akhmad mengajak Tedy berinvestasi untuk mengerjakan proyek pembangunan jalan di Kabupaten Kepahiyang. Akhmad mengaku sebagai anggota Divisi Propam Mabes Polri bahkan kenal dengan Kapolri Jenderal Polisi Sutarman.

Tak kalah menarik, tersangka berinisial YBR yang pernah mengaku sebagai putri kandung Kapolri Jenderal Timur Pradopo pada Mei 2013 silam. Ia melakukan penipuan dengan dalih bisa meloloskan korbannya masuk sebagai anggota kepolisian.

Pelapor, Uly Santuri, yang merupakan pegawai Dokkes di Polda Metro Jaya saat itu mengaku telah menyetor uang hingga Rp1,6 miliar untuk memasukkan enam orang rekannya ke kepolisian. Namun yang lolos hanya satu orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *