Menakar Arus Kekuatan Politik Pilgub Sulawesi Selatan 2018

Tinggal menunggu waktu, periode ketegangan berebut kursi panas Gubernur Sulawesi Selatan akan digelar. Kematangan demokrasi sebentar lagi diuji dalam satu kontestasi politik lima tahunan. Sosok petarung dan yang layak bertarung, kini semakin mencuat ke permukaan. Digiring melalui sederetan opini masif dan bahkan eksesif. Siapakah mereka ? calon penunggang tahta tertinggi tanah Sulsel.

Sejak era reformasi, gemuruh politik tanah air sukses menghadirkan babak baru. Pelimpahan kewenangan politik ke daerah mengisyaratkan masyarakat memilih pemimpin daerah secara demokratis, tidak melalui intervensi pusat, sebagaimana rangkaian pilkada di tahun-tahun silam. Masyarakat daerah kini berdaulat atas politik daerah. Memegang tumpuan penting memilih kesejehteraan melalui tangan pemimpin yang dipilihnya dibalik bilik suara.

Lekat dalam ingatan. Iringan kemenangan Gubernur Syahrul Yasin Limpo lima tahun lalu. Perolehan 52,42 % suara mengukuhkannya sebagai pemimpin Sulawesi Selatan kala itu. Namun, tak terasa tahun berganti tahun dan sebentar lagi menuju 2018. Kini pucuk pimpinan itu kembali dipertaruhkan melalui dinamika politik yang sangat cair. Sejumlah nama dari tokoh-tokoh Sulsel pun bermunculan mewarnai pertarungan para kandidat, yang satu per satu bersaing berebut restu partai.

Nama seperti Nurdin Halid, Agus Arifin Nu’mang, Nurdin Abdullah, Ichsan Yasin Limpo, Aziz Qahar Mudzakkar, Andi Mudzakkar (Cakka), Rusdi Masse, Abdul Rivai Ras, Aliyah Mustika Ilham, Tanribali Lamo, Lutfi A Mutty, Akbar Faisal, serta nama lainnya, merupakan nama yang sempat disebutkan akan meramaikan bursa pertarungan pilgub Sulsel 2018. Namun, seiring berjalannya proses politik, kemudian perlahan mengerucut pada beberapa nama kandidat kuat. Baik berdasarkan survei elektabilitas atau respon opini masyarakat secara langsung terhadap keberadaan kandidat.

Nama-nama teratas berdasarkan sejumlah survei yang dilakukan lembaga seperti Poltracking, Populi Center, PopMark, Indo Politico Institute, dan lainya, secara praktis menempatkan nama-nama seperti Nurdin Halid, Agus Arifin Nu’mang, Nurdin Abdullah, Ichsan Yasin Limpo, Abdul Rivai Ras, dan juga Rusdi Masse sebagai kandidat unggulan teratas yang akan bertarung dalam pilgub Sulsel 2018.

Disisi lain, realitas perpolitikan Indonesia yang menerapkan sistem multipartai, seolah memberi kesan makna bahwa tugas prioritas kandidat tidak hanya sekedar memberi janji kesejahteraan bagi masyarakat pra-pemilihan, melalui berbagai program kebijakan. Tetapi, juga harus aktif secara kompetitif menarik perhatian partai-partai politik melalui keterhubungan visi dengan parpol pengusung. Meskipun, ketentuan regulasi masih memberi ruang kemungkinan menggunakan jalur non-partai atau independen.

Politik tidak hanya soal pencoblosan surat suara. Namun, penjejakan dan komunikasi politik merupakan hal terpenting dalam upaya memperoleh kekuasaan politik. Hal itulah yang mengantar para kandidat senantiasa melakukan lobi politik untuk menentukan pendamping yang tepat. Untuk saling melengkapi satu sama lain, guna melenggang ke pentas tertinggi politik Sulsel.

Hasilnya, Nurdin Halid sebagai kader golkar dan merupakan calon tunggal yang diusung partai berjuluk pohon beringin ini, memutuskan mempersunting salah satu tokoh tanah Luwu Abdul Aziz Qahar Mudzakkar yang juga merupakan anggota DPD RI sebagai calon wakil gubernur. Kemudian kandidat bergelar Professor, Nurdin Abdullah yang dalam sejumlah survei kerap menjadi unggulan teratas ini, juga tak mau ketinggalan. Ia memilih pasangan wakilnya Andi Sudirman SUlaeman yang sebelumnya sempat disandingkan dengan mantan perwira tinggi militer TNI Angkatan Darat, Andi Tanri Bali Lamo.

Nama lain, Ichsan Yasin Limpo yang juga adik dari Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo turut memilih wakil pendampingnya melalui survei internal yang dilakukan dan menelurkan sebuah pilihan, memilih Andi Mudzakkar yang juga adik dari Aziz Qahar Mudzakkar. Selanjutnya, Petahana Wakil Gubernur, Agus Arifin Numang yang sebelumnya terlihat kesulitan untuk memutus pendamping dirinya, kini telah digadang-gadang akan berduet dengan politisi demokrat, Aliyah Mustika Ilham.

Peta Kekuatan Politik

Sejumlah pasangan akhirnya tersaji, setelah geliat politik yang cukup menyita waktu dan perhatian. Mereka menanti pesta akbar Pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan yang beberapa bulan lagi dihelat. Mereka adalah pasangan Nurdin Halid-Aziz Qahar Mudzakkar (NH-Aziz), Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaeman (NA-AAS), Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar (IYL-CAKKA), dan Agus Arifin Nu’mang-Aliyah Mustika Ilham (Agus-Aliyah).

Memahami kekuatan politik para calon bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan analisis mendalam terhadap seluruh aspek yang saling terkait, baik dari faktor partai politik, geopolitik, perilaku politik, patron-klien dan kondisi sosial-budaya demokrasi di Sulawesi Selatan. Keberadaan ini akan mendasari kecenderungan sikap politik yang menghasilkan konasi masyarakat dalam pemilihan kedepan.

Dalam ihwal kepartaian, koalisi partai politik menjadi instrumen untuk membangun kekuatan politik, termasuk di daerah. Tidak melulu mengikuti koalisi pusat, tetapi koalisi dapat terbentuk dari adanya nilai-nilai bersama, tujuan politik yang sama dengan adanya konsensus dan kontrak politik.

Pasangan NH-Aziz secara resmi diusung oleh partai golkar dan yang teranyar, NasDem maupun PKPI bersedia menemani beringin untuk melapangkan jalan NH-Aziz, dengan total perolehan 26 kursi di DPRD Sulsel.

Tak kalah mengejutkan, pasangan NA-ASS memberikan pemandangan langka manakala sukses menggabungkan dua partai besar senayan yakni PDIP dan gerindra, yang dikenal selalu bersebrangan arah politik. Namun, keduanya sejenak berdamai di tanah Sulsel melalui tangan dingin pasangan NA-ASS. Begitu halnya dengan dua kekuatan partai lainnya, yaitu PKS dan PAN yang sebelumnya diisukan telah merapat ke kubu IYL-CAKKA.

Pasangan lainnya, IYL-CAKKA dan Agus-Aliyah mungkin berharap cemas, agar partai tak bertuan yang tersisa dapat mengusungnya, sehingga memenuhi standar jumlah kursi pencalonan. Untuk sementara, kubu IYL dikabarkan telah didukung oleh partai Hanura dan PPP (kubu Romahurmuziy) sedangkan Agus didukung oleh PKB. Tersisa partai demokrat dengan jumlah 11 kursi di DPRD, yang sewaktu-waktu bisa memutus asa salah satu calon untuk maju di jalur independen.

Bargaining politik telah memetakan kekuatan politik baru. Golkar sebagai partai yang mengakar kuat di Sulsel tetap menjadi gerbong utama. Walau belakangan ini, kerapkali diterpa pemberitaan miring dari gejolak isu ataupun kasus yang tengah terjadi di pusat. Namun, sokongan Nasdem bisa membuka ruang semakin terang. Basis kekuatan diyakini tersebar merata di deretan wilayah sulsel setelah beberapa bupati, wakil bupati, maupun pengusaha memutuskan bergabung.Tak pelak, jika koalisi partai ini, diprediksi menjadi poros kekuatan politik terkuat.

Berdasarkan data yang dihimpun, partai golkar di Sulsel memiliki 10 bupati dan 6 wakil bupati. Sementara Nasdem berkekuatan 4 bupati dan 8 wakil bupati. Jika digabungkan dua kekuatan tersebut tentunya menguasai simpul kekuatan kepala daerah di 24 kabupaten/kota di Sulsel.

Poros lainnya, partai PDIP, Gerindra, PKS, dan PAN tak boleh dipandang sebelah mata. Berstatus partai terkuat senayan, PDIP tentu punya strategi tersendiri menggaet kepercayaan tokoh besar Sulsel di pusat. Meskipun, andil partai ini masih tergolong lemah di tanah Sulsel dibanding dengan sebaran suara mereka di berbagai daerah jawa. Terlebih lagi, setelah isu kurang sehat menghampirinya pasca perhelatan Pilgub DKI Jakarta. Namun, merapatnya koalisi abadi KMP yang terdiri dari gerindra, PKS, dan PAN yang bergabung bersama PDIP dengan total 31 kursi DPRD, seakan memberikan sinyal kekuatan, koalisi empat partai ini tidak main-main dalam menentukan figur yang akan diusungnya.

Partai tersisa, menanti hasil lobi politik yang terbangun. Untuk segera mengeluarkan rekomendasi resmi terhadap calonyang akan diusungnya. Kemungkinan yang bisa terjadi adalah terbentuknya poros koalisi baru ataukah partai tak bertuan yang dimaksud, justru akan merapatkan barisan kepada calon yang lebih dahulu mendeklarasikan diri karena tidak ingin mengambil resiko berlebih pada perhelatan pilgub SUlsel. Yang pasti, ketika kedua calon bersikukuh maju pada pilgub Sulsel, dengan melihat partai yang tersisa. Maka dipastikan akan ada satu calon yang harus rela menempuh jalur non- partai.

Geopolitik

Geopolitik merupakan kajian kontemporer hasil perkembangan ilmu geografi dan politik yang merujuk pada hubungan antara politik dan teritori. Pola ini berupaya mencari hubungan antara konstelasi geografi dan pendistribusian kekuasaan (power) serta kewenangan (rights) dan tanggung jawab (responsibilities) dalam kerangka mencapai tujuan politik. Fokus kajian geopolitik salah satunya menyangkut dinamika pemilihan umum.

Menelisik aspek geopolitik dalam ranah pilgub sulsel, sepenuhnya tidak bisa dilepaskan dari hubungan keterikatan masyarakat dengan wilayahnya masing-masing. Apalagi, sejarah politik sulsel mencatat, sejak bergulirnya reformasi, persoalan geopolitik merupakan isu yang cukup seksi guna mendulang pundi-pundi suara. Ini berarti, perkembangan narasi seputar isu geopolitik masih akan terlihat populer diperbincangkan di setiap sudut wilayah bahkan menyentuh sela-sela ruang warung kopi.

Berdasarkan data yang dihimpun di situs KPU, menempatkan beberapa daerah dengan pemilih terbanyak berdasarkan wilayah, diantaranya Makassar, Bone, Gowa, Wajo, Jeneponto dan seterusnya. Daerah ini, dalam cakupan geopolitik, akan dipandang menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan.

Namun, perkembangan kekinian, peta geopolitik Sulsel dikenal dengan adanya wilayah seperti Bosowasi (Bone, Soppeng, Wajo dan Sinjai), Ajatappareng (wilayah sekitar Danau Sidenreng) masuk daerah, Parepare, Sidrap, Pinrang dan Barru. Wilayah Luwu Raya dan Toraja serta wilayah Selatan Selatan Sulsel (Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Selayar Bulukumba).

Dalam pemilihan gubernur Sulsel, peta geopolitik pasangan calon memiliki basis kuat di masing-masing teritori. Meskipun diketahui, terdapat pula wilayah yang memiliki basis massa saling beririsan satu sama lain.

Pasangan NH-Aziz, secara geopolitik diprediksi memiliki basis kuat di wilayah Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, dan luwu raya yang terdiri dari 4 kabupaten. Nurdin Halid yang diketahui merupakan keturunan Bone dan juga berdarah Wajo, praktis menempatkan dirinya sebagai unggulan teratas di daerah ini. Begitu halnya dengan figur Aziz di Luwu raya serta partai pengusung yang pada beberapa teritori ini, bisa dikatakan cukup kuat.

Untuk pasangan NA-AAS, jika merujuk pada geopolitik, diduga memiliki basis dukungan di daerah Bantaeng, Bone, Soppeng, pare-pare, pangkep, dan kabupaten tetangga bagian selatan seperti jeneponto, Bulukumba, dan Kepulauan Selayar.

Nurdin Abdullah memiliki garis keturunan Bone, Bantaeng dan Soppeng. Setidaknya memberikan modal tersendiri untuk meningkatkan popularitas dan akseptabilitasnya dengan cepat di wilayah tersebut. Begitu juga dengan Pare-Pare, daerah dimana Nurdin sempat menghabiskan masa sekolahnya bersama keluarga. Andi Sudirman Sulaeman menjadi figur tepat karena mempunyai basis keluarga yang kuat di wilayah Bone yang merupakan tempat tinggalnya.

Figur lainnya, berasal dari pasangan IYL-Cakka. Loyalis klan Yasin Limpo yang terkenal mengakar di masyarakat Sulawesi Selatan tentu menjadi aspek yang mewakili betapa kuatnya representasi pemetaan geopolitik milik Ichsan Yasin Limpo. IYL memiliki basis kuat di daerah Gowa, Takalar, Jeneponto, Makassar, Tana Toraja, dan Toraja Utara. Sedangkan Andi Muzakkar mewakili kekuatan pemilih di daerah Luwu Raya dan yang terkuat di kabupaten Luwu atas dedikasi pengabdian sebagai bupati dua periode.

Meskipun di tanah Gowa sempat mengalami perpecahan sebab ihwal pilkada Gowa sebelumnya dan beberapa kebijakan yang dianggap bersinggungan dengan potensi konflik kerajaan Gowa. Namun, interaksi kedaerahan masih tetap kuat membudaya di daerah berjuluk kota bersejarah ini. Hasil ini dipengaruhi pula oleh kekuatan simpul massa dari gubernur SYL yang dikenal mempunyai karakter kuat di masyarakat, tidak hanya di Gowa tetapi di berbagai daerah di Sulawesi Selatan.

Kemungkinan kandidat terakhir, pasangan Agus-Aliyah ditelaah memiliki basis tradisionalnya masing-masing. Agus mewakili Ajatapareng, sedangkan Aliyah dikenal memilki basis massa di Kota Makassar serta wilayah dapil Sulsel I yang mewakili bagian selatan dan merupakan dapil pemilihan Aliyah di legislatif. Kolaborasi keduanya saling melengkapi dan diprediksi banyak pihak akan memberikan kejutan di perhelatan politik Sulsel.

Patron-Klien

Identitas geopolitik bukanlah satu-satunya faktor berpengaruh dalam politik Sulsel. Memahami dan menjelaskan fenomena demokrasi dan perpolitikan kini rasanya tidak mungkin dilakukan tanpa dengan memahami budaya dan relasi-relasi sosial yang sebenarnya sudah lebih dulu hadir di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan.

Relasi-relasi sosial apa yang sudah terlebih dahulu hadir di Sulawesi Selatan akan mendasari sistem kekerabatan yang terjadi. Hubungan sosial-budaya pada tradisi masyarakat Sulawesi Selatan umumnya lebih mementingkan kekerabatan daripada ideologi partai atau ideologi organisasi. Apalagi konteks demokrasi dalam politik masih merupakan persoalan baru yang mengisi kehidupan mereka sehari-hari.

Dari berbagai sumber penelitian, hubungan patron-klien atau patronase (patronage) di Sulawesi Selatan masih menunjukkan gejala keberadaanya, terutama di wilayah pedesaan. Literatur ilmiah di akhir abad 19 yang ditulis P.J.Kooreman (pegawai kolonial Belanda) dalam jurnal Indische Gids mengistilah keadaan faktual patronase sebagai volgelingzijn (kepengikutan). Oleh Scoot (1972) didefinisikan sebagai pertukaran antara individu yang lebih tinggi kedudukannya secara ekonomi dan sosial, dengan individu yang lebih rendah kedudukannya ini merupakan hubungan yang harus dibina oleh kedua belah pihak.

Demikian halnya Pelras di tahun 1980an, Ahimsa-Putra di tahun 1990an, dan juga Lampe yang melakukan penelitian di kalangan nelayan masyarakat Sulawesi Selatan yang masih menemukan pola hubungan patron-klien yang sama.

Oleh karena itu, peta persaingan pilgub Sulsel tidak hanya melibatkan cerita di atas permukaan atau sekedar tampilan deretan baliho, stiker, dan sorak media cetak atau elektronik. Tapi lebih dalam, ia akan mengungkit peran dari hubungan sosial masyarakat yang ada di Sulawesi Selatan berdasarkan hubungan kekerabatan.

Relasi patron klien politik Sulsel dapat dianggap sebagai model dominasi. Kandidat yang memiliki dominasi atas modal, pekerja, mesin, tanah, perdagangan, jasa, otoritas elit birokrasi/desa, dan sebagainya yang dianggap sebagai alat kontrol hubungan menjelang pemilihan Gubernur Sulsel. Hal yang bisa membuat jaminan subsistensi menjadi dasar ketergantungan yang turut memperbudaknya.

Maka tak heran, pengusaha atau elit-elit kekuasaan tak pelak ikut bergabung dengan kandidat-kanditat tertentu. Karena ia paham betul, hubungan patron-klien masih sangat berpengaruh di politik Sulsel.

Keterpilihan calon nantinya, akan merepresentasi aspek patron-klien dan pengaruhnya terhadap demokrasi politik yang sebentar lagi akan dipertontonkan. Walaupun hubungan ini sudah berlangsung cukup lama, namun pengaruhnya tidak bisa dianggap remeh temeh dan dikesampingkan.

Dari sekian banyak faktor yang berpengaruh, akan berimbas pada perilaku politik masyarakat. Mereka diarahakan pada keinginan memilih atau tidak memilih, memilih kandidat A, B, C dan atau seterusnya, berdasarkan faktor internal dan eksternal yang kerap mendampingi hasrat memilih masyarakat. Asumsi kalangan rational choice dalam politik mungkin tidak akan berkontribusi maksimal, karena dimensi rasional akan terbentuk dengan sendirinya pada individu-individu yang berdasar pada ketergantungan dan kepentingan mereka masing-masing.

 

Oleh Fahri Ardiansyah Tamsir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *