‘Marlina the Murderer in Four Acts’, Kisah Perjalanan Perempuan Mencari Keadilan

Kanesia.com

“Malam ini kau adalah perempuan paling beruntung”
“Sa perempuan paling sial sesudah malam ini”

Percakapan di atas merupakan dialog yang ada di babak pertama film garapan sutradara Mouly Surya ‘Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak’.

Relasi kuasa dalam oposisi biner hubungan laki-laki dan perempuan adalah sesuatu yang masih saja ada. Adanya ketimpangan relasi gender yang tidak setara membuat kekerasan seksual hingga pemerkosaan masih kerap terjadi hingga kini.

‘Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak’ mencoba mengangkat isu tersebut. Melalui film yang dibagi dalam empat babak, ‘Perampokan Setengah Jam Lagi’, ‘Perjalanan Juang Perempuan’, ‘Pengakuan Dosa’, dan ‘Tangisan Bayi’, film ini menyuguhkan isu gender tersebut lewat komedi satir yang gelap.

Marlina (Marsha Timothy) seorang janda yang tinggal seorang diri setelah anak dan suaminya meninggal tiba-tiba didatangi sekawanan perampok yang dikepalai oleh Markus (Egi Fedly). Kawanan perampok tersebut tidak hanya mengambil ternak Marlina, tapi juga hendak memperkosa Marlina.

Merasa teropresi, Marlina membunuh kawanan perampok tersebut, termasuk memenggal kepala Markus yang mencoba memperkosa dirinya.

Merasa perlu mencari keadilan, Marlina membawa kepala Markus ke kota, berniat melapor ke kantor polisi. Dalam perjalanannya, ia justru bertemu dengan Novi (Dea Panendra) yang sedang hamil tua dan mencari suaminya.

Perjalanan Marlina rupanya tidak mulus, ia ‘dihantui’ oleh arwah Markus yang penasaran hingga diikuti oleh anak buah Markus yang tidak terima atas kematian bosnya, Franz (Yoga Pratama).

Kehadiran Novi membawa penonton melihat ketimpangan relasi gender lainnya. Bagaimana hubungan yang tidak sejajar bisa saja terjadi dalam sebuah rumah tangga yang dilandaskan saling cinta.

Bagaimana Novi dan Marlina kemudian menjadi ‘hero’ dalam film tersebut juga menjadi sesuatu yang menarik untuk disimak.

‘Mengintip’ Timur Indonesia

Film ‘Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak’ bisa dibilang adalah film yang berhasil mengusik rasa nyaman dan mengajak penonton pulang sambil bertanya. Lewat dialog yang hemat tapi padat, ada banyak isu yang diangkat di film tersebut.

Bukan hanya mengenai relasi gender, film ini juga mengajak penonton, yang tinggal di perkotaan, untuk ‘mengintip’ bagian lain di Timur Indonesia.

Berlatarkan Sumba, Nusa Tenggara Timur, film ini mengajak penonton mempertanyakan susahnya sarana transportasi, jauhnya layanan hukum, hingga birokrasi. Kemiskinan juga menjadi salah satu sorotan dalam film ini.

Bagaimana tokoh Marlina masih menyimpan mumi suaminya di rumah karena tidak punya biaya untuk pemakaman menjadi ironi sekaligus humor gelap tersendiri dari film ini.

Indahnya alam Sumba dan musik garapan Yudhi Arfani dan Zeke Khaseli juga menjadi nilai tambah tersendiri.

Tidaknya itu, film ‘Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak’ juga merupakan film bergenre satay Western pertama, yang juga sekaligus menjadi film anti-Western karena justru tokoh perempuan yang menjadi ‘koboi’ pahlawan dalam filmnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *