Intip “Surga Dunia” Yang Ditawarkan Hotel Alexis, Lantai 7 Bikin Melotot

Jakarta, Kanesia.com – Operasional Hotel Alexis yang tidak diperpanjang Pemprov DKI Jakarta menjadi perhatian publik.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mantap tak memperpanjang izin usaha Hotel Alexis.

Tak pelak, hotel yang terletak di Jalan RE Martadinata No 1, Ancol, Pademangan, Jakarta Utara tersebut harus tutup per Senin (30/10/2017).

Hotel Alexis memang selalu dikenal sebagai pusat hiburan prostitusi kelas atas di ibukota.

Hal itu sempat heboh lantaran Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pernah menyebut lantai 7 hotel Alexis sebagai surga dunia.

“Di hotel-hotel ada enggak prostitusi? Ada. Prostitusi artis di mana? Di hotel. Di Alexis itu, lantai 7 surga dunia lho. Di Alexis, surga bukan di telapak kaki ibu, tetapi di lantai 7,” kata Basuki, Selasa (16/2/2016) seperti dikutip Kompas.com.

Hal tersebut diakui salah satu pelanggan Alexis yang enggan disebut namanya.

Tak hanya fasilitas itu, ada beberapa fasilitas lain yang membuat Hotel Alexis dikenal sebagai pustat hiburan ‘Surga Dunia’.

Hotel Alexis yang terletak di Jakarta Utara sudah lama jadi perbincangan. Banyak mitos menyelubungi hotel berkelir hitam itu. Termasuk soal lantai 7 di hotel tersebut. Ada apa di sana?

Lantai 7 hotel bernuansa kehitaman itu dapat diakses melalui lift yang terletak di belakang meja resepsionis di bagian lobi. Begitu keluar dari lift, pengunjung langsung disambut senyuman seorang resepsionis.

“Mau ke tempat spa, ya? Silakan pakai dulu ini.” Resepsionis berjenis kelamin laki-laki itu mengarahkan kami, yang berkunjung sekitar dua pekan lalu, ke sebuah meja untuk mengenakan gelang berwarna merah dengan nomor tertentu.

Gelang itu dilengkapi chip untuk membuka loker, sekaligus dijadikan identitas tamu saat penagihan atas layanan yang diberikan. Setelah kami memakai gelang dan menuju area spa, dua petugas keamanan hotel yang berjaga di depan pintu mencegat kami.

“Tolong handphone-nya dikeluarkan dulu,” ujar petugas sekuriti berbadan tegap itu. Semua telepon seluler pengunjung memang diambil dan dipasangi stiker berbentuk bulat untuk menutup lensa kamera depan maupun belakang. Setelah itu ponsel dikembalikan dan kami dipersilakan menuju lounge dipandu dua waitress.

Setelah melewati loker untuk tamu yang ingin mengganti pakaian dan ke toilet, kami kemudian menuju sebuah lorong. Di ujung lorong itu terlihat sejumlah perempuan cantik berpakaian seksi laksana bidadari berlalu lalang. Mereka berjalan berbaris mengikuti seseorang yang diketahui sebagai muncikari.

Menariknya, perempuan-perempuan cantik yang ada di situ bukan hanya berasal dari Indonesia. Perempuan berwajah Oriental, melayu, Eropa Timur, bahkan Amerika Latin pun ada. Pada saat-saat tersebut, seorang perempuan berusia sekitar 30 tahun, yang parasnya tak kalah jelita, mendekati kami. “Baru datang, ya? Silakan ikuti saya,” ucap perempuan yang mengenakan pakaian blazer hitam itu.

Kami pun mengikuti langkah perempuan berambut lurus yang belakangan diketahui sebagai mami alias muncikari di Alexis itu. Rupanya kami diajak ke sebuah sudut bangunan yang di sana terdapat gazebo berjumlah delapan unit. Masing-masing gazebo dilengkapi dua sofa, sebuah meja, dan tirai.

Muncikari itu, sebut saja A, kemudian mempersilakan para tamu duduk. Tak lama berselang, ia berpamitan dengan alasan ingin ‘menyiapkan anak-anak’. Sambil menunggu datangnya minuman yang kami pesan, mata kami menyapu seluruh isi ruangan dari balik tirai gazebo.

Malam itu, suasana di ‘lantai surga’, baik di dalam bar maupun gazebo, begitu riuh. Banyak pria yang terlihat duduk-duduk santai sambil menikmati alunan musik nan lembut. Gelak tawa perempuan-perempuan cantik sesekali terdengar. Sejumlah perempuan duduk berjajar di hadapan salah satu sofa yang berisi dua pengunjung.

Beberapa menit kemudian, A muncul kembali. “Sudah pernah datang sebelumnya?” tanyanya. Begitu kami bilang belum pernah, A pun langsung menjelaskan secara terperinci tarif layanan seks perempuan yang menjadi anak buahnya.

Kata A, untuk perempuan lokal atau asal Indonesia, tarifnya Rp 1,45 juta per sekali kencan. Durasinya sekitar satu jam. Sedangkan untuk perempuan ‘impor’, tarifnya bervariasi. Untuk perempuan asal Filipina, Thailand, Vietnam, Uzbekistan, dan Kolombia, harganya Rp 2,45 juta. Yang paling mahal adalah perempuan asal China, yang dipatok Rp 2,7 juta per sekali kencan.

Juru bicara Hotel Alexis Ridwan membantah ada prostitusi di Alexis. Ia menanyakan apakah sudah pernah ke lantai tujuh untuk melihatnya secara langsung. Dijawab sudah, Ridwan pun menimpali, “Nah, kalau itu individu. Kalau itu saya tidak tahu. Izin kami hanya karaoke, spa, dan hotel. Kalau ada pemandu, iya, ada pemandu. Tapi dalam konteks itu (layanan seks), kita tak menyediakan. Masing-masing,” katanya.

Dilansir dari Alexis Hotel Management, berikut 5 fakta menarik soal fasilitas yang ditawarkan Hotel Alexis.

1. Lantai 1, Tarian Striptease dan Sex Show

Untuk masuk ke acara tersebut siap-siap rogoh kantong dalam-dalam.

Masuk berarti dikenai tiket dengan tarif seharga Rp 100.000.

Jika ingin open table di bar yang terletak di lantai 1 (4Play) minimal dikenai biaya Rp 2 juta.

2. Fasilitas Hiburan Premium

“Hotel Alexis menawarkan berbagai tempat hiburan seperti 4Play Clun & Bar Longue, Xis Karaoke, dan BathHouse Gentlemen Spa.”

3. Lantai 7, Surga Kaum Adam

Pada lantai ini pengunjung bisa menikmati spa atau massage dari gadis-gadis cantik yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

Gadis-gadis luar negeri yang ada di Alexis Hotel biasanya didatangkan dari Uzbekistan, Thailand, Vietnam, China, Rusia, hingga Spanyol.

4. Erotic Massage Gadis Lokal

Fasilitas ini diterangkan bisa dinikmati ketika ditebus dengan uang mulai dari 1,375 juta. Sedangkan untuk gadis luar negeri dibanderol mulai dari Rp 1,375 juta hingga Rp 2,5 juta.

Tersedia sekitar 74 kamar mewah di dalam Alexis Hotel.Tarif menginap per malamnya di Alexis Hotel berkisar mulai dari Rp 1 juta.

5. Tak Mudah Masuk ‘Surga Dunia’

Hal itu pernah dialami para penyelidik dari Pemprov DKI yang hendak mengumpulkan bukti adanya praktik prostitusi.

Pihak Pemprov DKI gagal masuk lantai 7 yang disebut sebagai pusat hiburan terpanas di hotel itu. Inisiatif yang dilakukan Pemprov ini tetapi meninggalkan sedikit cerita.

Sejak memasuki lahan parkir ternyata pengunjung telah dijaga ketat. Pengunjung yang datang akan dihampiri petugas dan menanyakan sejumlah pertanyaan kode. Dari sini mereka akan mengetahui jenis pengunjung.

Jika diketahui hanya sebagai tamu umum mereka akan diarahkan ke lantai satu.

Sedangkan jika diketahui tamu ‘istimewa’ maka akan di arahkan ke sebuah elevator ke tempat ‘impian’ mereka.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI, Catur Laswanto, bahkan sempat terkecoh dan kena gertakan Ahok gara-gara tak cerdik menyelidiki tempat tersebut.

Pada kunjungan pertama ia sendiri mengatakan bahwa prostitusi di lantai tujuh hanya isapan jempol belaka.

Namun, begitu Ahok memarahinya dan menyuruh ia datang kembali ke tempat tersebut, dengan trik khusus, ia pun mengakui bahwa Alexis ternyata merupakan sarang prostitusi di Ibukota Jakarta.

Kini fasilitas yang ditawarkan hotel Alexis hanya akan menjadi cerita. Di awal kekuasaannya sebagai Gubernur baru Jakarta, Anies Baswedan mengambil keputusan untuk tak memperpanjang izin usaha Hotel Alexis. Berbekal dari banyaknya keluhan dari masyarakat, Anies pun semakin mantap menutup hotel yang menawarkan fasilitas surga dunia itu.

Berikut penampakan dari dalam hotel Alexis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *