Esai : Disiplin Itu Asik

Kanesia.com – DISIPLIN kerap dianggap sebagai suatu pekerjaan yang membosankan bahkan hal menakutkan bagi sebagian orang. Karena itu, menumbuhkan tingkat kedisiplinan sebaiknya dimulai dengan merubah cara pikir tentang disiplin itu sendiri, bahwa disiplin tak melulu pekerjaan yang menguras banyak tenaga dan membuang waktu untuk memanjakan diri.

Akan tetapi kedisiplinan laiaknya rutinitas harian yang menantang juga menyenangkan. Bagi sebagian orang, berlaku disiplin terkadang menjadi hambatan untuk menikmati waktu dalam bekerja, adanya batasan waktu terkadang membuat kita merasa dikejar. Hal tersebut terkadang menggangu fokus dalam melakukan suatu pekerjaan. Namun pikiran yang demikian, acap dialami oleh mereka yang masih salah kaprah dalam memahami kedisiplinan.

Pada dasarnya kedisiplinan menyoal perilaku dan kebiasaan seseorang. Ada sebuah pepatah bugis mengatakan Lele bulu’ tellele  abbiasang, Gunung bisa dipindahkan tetapi kebiasaan susah diubah. Sama halnya dengan kedispilinan, kebiasan berperilaku tepat waktu mampu tercipta manakala pikiran mampu menstimulus tindakan bahwasanya berlaku disiplin mendatangkan banyak manfaat dan keuntungan.

Disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dan serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban (Baca: http://www.kesekolah.com/artikel-dan-berita/pendidikan/cara-meningkatkan-disiplin-siswa-di-sekolah.html#sthash.dWuSKjlI.dpuf .

Dalam hal pembiasaan berlaku disiplin, yang berperan besar dalam hal ini adalah diri kita sendiri, tepatnya bagaimana mengkonsturksi pikiran terkait berlaku disiplin. Bahwa sesungguhnya kemampuan untuk memegang kendali atas pikiran kita dapat menentukan kualitas kehidupan. Dengan peningkatan kualitas hidup itu, sedikit demi sedikit kita bisa mengoptimalkan seluruh potensi yang kita miliki.

Orang yang telah membangun mental disiplin yang baik membuat mereka mendatangkan rejeki lebih banyak, mereka mengembangkan kemampuan lebih dari sesama mereka, menikmati posisi yang lebih tinggi dalam bekerja, lebih menunjukkan rasa hormat, dan membentuk hubungan-hubungan profesional maupun personal.

Sebaliknya, mereka yang tidak bisa mengontrol pikiran mereka dalam berurusan sosial kemampuan untuk fokus dan berpikir dengan jernih. Dengan kata lain, mereka tidak membuat penghasilan menjadi maksimal. Hal ini terjadi karena mereka tidak mampu menunjukkan kompetensi yang sebenarnya, yang justru menurunkan tingkat fokus dan menuai prestasi yang buruk.

Karena pembangunan kesadaran dalam pikiran kita ini merupakan salah satu kunci untuk sukses dalam bekerja, maka menjadi penting bagi kita untuk mengetahui apa saja keuntungan yang akan kita dapatkan dari menaikkan kontrol terhadap pikiran, bagaimana proses berpikiran ini memengaruhi kemampuan kita untuk memimpin melalui strategi kerja yang baik, dan sebagainya.

Semua perubahan dalam cara berpikir kita muncul dari pemahaman bahwa kekukatan untuk mengubah pemikiran kita ini datang dari diri sendiri. Latihan, Pengulangan, dan Dedikasi idak cukup bagi kita untuk sekadar tahu bagaimana membangun kerangka pikiran yang sukses. 

Tidak mudah bagi kita untuk mengubah kebiasaan dan cara pikir, karena memang tidak terlihat, dan biasanya sudah terbangun sejak tahunan atau puluhan tahun yang lalu. Mengubah cara berpikir kita sesulit mengubah kehidupan kita sendiri. Namun ketika kita menyediakan tenaga dan waktu untuk hal tersebut, kehidupan kita akan berubah, dan kesuksesan itu akan mendatangi kita. Amin!

Harmiawati | Mahasiswa Fisip UH

 

Catatan: Tulisan ini pernah berhasil masuk dalam kategori penerima beasiswa dataprint tahun 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *