Bikin Merinding, Rumah Kosan Terbengkalai di Jogja Ini Teryata Punya Kisah Kelam.

Kanesia.com – Yogyakarta terkenal sebagai kota yang sangat dirindukan oleh para wisatawan dengan segala keramah-tamahan penduduknya. Tempat wisatanya pun cukup menarik dan tak akan pernah bosan untuk dikunjungi lagi dan lagi. Ditambah banyaknya bangunan-bangunan bersejarah dan wisata kulinernya yang juga cukup beragam membuat Yogyakarta jadi semakin menarik untuk dikunjungi. Namun, di balik keistimewaannya, Yogyakarta juga memiliki kisah mistis yang…

Uang Panai Terlalu Mahal, Pemuda Bugis Bone Ini Akhirnya Menikah Dengan Bule Cantik Eropa

Kanesia.com – Lagi, pemuda asal Sulawesi Selatan mempersunting bule Eropa. Setelah Ijal Ricardo, pemuda Makassar menikah dengan bule asal Perancis, kini giliran pemuda Bone, Afrizal Rahmat (23) mempersunting bule asal Jerman bernama Kathleen Mijo kovarbasic (23). Pesta pernikahan keduanya yang menggunakan adat Bugis berlangsung di kediaman mempelai pria di kompleks perumahan BTN Macanang Indah Permai, eks BTN Harvana…

6 Sifat Manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis *, masihkah relevan?

Pada tahun 1977, di Taman Ismail Marzuki (TIM), melalui pidatonya yang berjudul Manusia Indonesia, Mochtar Lubis mengupas sifat-sifat negatif orang Indonesia. Sifat-sifat manusia Indonesia yang disebutkan ialah munafik, tidak mau bertanggung jawab, berperilaku feodal, percaya pada takhayul, berbakat seni dan lemah karakternya. Saat ini kita berada di tahun 2017, tepatnya 40 tahun setelah pidato tersebut…

Sajak ‘Hujan Bulan Juni’ Diterjemahkan ke Bahasa Mandarin

Kanesia.com, Jakarta – Sapardi Djoko Damono, siapa yang tak mengenal orang ini? seorang sastrawan terkenal dengan puisi-puisinya yang sederhana. Karyanya telah memenangkan hati para pembaca melalui rangkaian kata menelusup ke dalam nurani. Sederetan karya masyhur membawa Sapardi menjadi salah satu pujangga terbaik Indonesia yang pernah ada. Namun siapa yang menyangka, di usia 77 tahun karya-karya…

Bertemu W.R Supratman Di Jalanan

Kanesia.com – DI BAWAH LAMPU pelataran Taman Ismail Marzuki, Endin Sas membaca sajak-sajaknya. Suaranya yang garau bergema di celah-celah kerumunan pejalan kaki Cikini. Ada yang menikmati dan banyak juga yang tidak peduli. Jam menunjukkan Pukul 10 lewat, Endin Sas alias Syarifudin, alias Ndin sepertinya kelelahan membaca sajak. Ia menghampiri sekaligus mengajak kami tampil yang sedari…