Bertemu W.R Supratman Di Jalanan

Kanesia.com – DI BAWAH LAMPU pelataran Taman Ismail Marzuki, Endin Sas membaca sajak-sajaknya. Suaranya yang garau bergema di celah-celah kerumunan pejalan kaki Cikini. Ada yang menikmati dan banyak juga yang tidak peduli.

Jam menunjukkan Pukul 10 lewat, Endin Sas alias Syarifudin, alias Ndin sepertinya kelelahan membaca sajak. Ia menghampiri sekaligus mengajak kami tampil yang sedari tadi duduk manis menikmati pertunjukannya. Seketika itu juga kami saling tunjuk, sebab kami tak ada yang berani seperti Gladis, kawan Ndin yang membawakan karya W.S Rendra ‘Bersatulah pelacur-pelacur Kota Jakarta’ di pelataran TIM.

Penulis buku kumpulan puisi “Air Mata Karang” itu akhirnya duduk melantai bergabung bersama kami. Di sinilah saya bertemu dengan W.R Supratman.

Ndin mendaku kalau ia salah satu asisten sutradara John De Rantau dalam film ‘WAGE’. Film bergenre drama epic tersebut bercerita tentang perjalanan hidup Wage Rudolf Supratman, pahlawan nasional yang dikenal sebagai pencipta lagu Indonesia Raya.

“Sekarang masih dalam tahap editing. Film ini risetnya 9 bulanan, Wir. Dibiayai sama Pak kiai dari Jombang,” kata Ndin.

MENUNJUKKAN. Telepon genggam Bang Ndin memutar cuplikan vidio part Film WAGE, 2 September 2017. Foto : Wira Wahyu Utama

Mendengar itu, saya mendekat lalu mengajak ndin untuk mengobrol lebih lama. Kasihan, sebab saya hanya mengenal W.R. Supratman sebatas pencipta lagu yang didengar setiap hajatan nasional. Barulah pertemuan dengan Ndin ini saya menjadi penasaran dengan pahlawan nasional, yang konon pernah menjadi wartawan di Bandung. Ihwal Supratman pernah menjadi jurnalis, saya mencoba menghubungi sang empunya sejarah pers, Muhidin M Dahlan.

“Keknya. Dia itu juga jurnalis. Mesti dicek dulu,” tulis pengelola warung arsip di Jogja ini, membalas pertanyaan saya di chat facebook.

Belajar Musik Di Makassar

W.R. Supratman ternyata pernah tinggal dan belajar di kota angin mammiri, Makassar. Ia juga pernah menjadi guru sekolah dasar di Sengkang meski hanya sebentar. Nama Rudolf yang berada di tengahnya merupakan pemberian dari kakak iparnya, William Van Eldik dengan maksud agar Wage bisa bersekolah di tempat anak-anak keturunan Belanda, ELS ( Europees Lagere School).

Jadi nama pemberian ibunya ternyata hanya Wage Supratman dan ia bukan orang belanda. “Kalau ngak ada rudolf, dia mungkin ngak boleh sekolah di ELS,” ujarnya. Begitu pun dengan tempat kelahirannya yang tertulis di wikipedia.org adalah Jakarta, sedangkan banyak yang meyakini kalau W.R Supratman lahir di Sumogiri, Purworejo, Jawa Tengah. Soal ini masih kontroversi.

Menurut Ndin, Film WAGE nanti akan berupaya menampilkan sosok dan kiprah W.R. Supratman secara utuh. Di film itu juga akan ditampilkan sisi lain dari Wage. Seperti ia doyan minum-minum dan berpetualang pada banyak tempat. Termasuk juga menampilkan bagaimana ketika Wage diawasi militer belanda saat sedang bermain musik.”Jadi nanti, dia (Wage) tidak hanya ditampilkan apa yang selama ini dikenal orang,” katanya.

Foto : NET

Lagu Indonesia Raya pertama kali ditampilkan di hadapan umum pada hari ketiga Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928 yang diketuai Sugondo Joyopuspito. Ketika itu, Supratman membawa rancangan lirik lagu yang akan diperdengarkan. Sugondo sempat cemas karena kongres itu dikawal oleh aparat dari Hindia Belanda yang bisa saja menghentikan kongres jika terdapat muatan yang menyinggung

Dan pada akhirnya Supratman tampil tanpa syair sebelum kongres ini, membacakan hasil akhir. Lagu yang dibawakan secara instrumental tersebut masih berjudul “Indonesia”, belum Indonesia Raya. (Baca; Artikel Rollinf Stone Indonesia, Kontorversi W.R. Supratman).

Kembali ke Ndin. Proses syuting Film WAGE besutan John De Rantau yang juga pernah menyutradarai Film ‘Denias, Senandung Di Atas Awan’ ini memakan biaya belasan miliar. Lokasinya berada di banyak tempat, di antaranya kawasan kota tua Semarang, Magelang, Klaten, Yogyakarta, Solo, Kalidadap, dan Purworejo tempat kelahiran Wage yang menurut Ndin di sana para kru film bertemu dengan sanak keluarga W.R. Supratman.

“Sekitar 15 M lah. Para pemerannya juga banyak memakai anak-anak Jogja. Kita di sana beberapa bulan, termasuk bulan puasa kemarin. Film ini juga melibatkan banyak aparat militer asli, syutingnya di Rindam Magelang,” ujarnya.

MELANTAI. Saya dan Bang Ndin ngalor-ngidul di Taman Ismail Marzuki, 2 September 2017 Foto : Andri Asoka Sapada.

Sayangnya, mesti diketahui bahwa W.R. Supratman pernah tinggal bahkan belajar biola di Makassar, film ini sama sekali tidak menggunakan kota tersebut sebagai lokasi syuting. Adegan yang berlatar Kota Makassar dalam film ini, sebenarnya berada di Kota Tua, Semarang.

“Yang di Makassar itu, kami syuting di Semarang. Kota Tua. Yah lebih kepada menghemat ongkos produksi sih,” ujarnya.

Malam semakin larut. Saya, Ndin, dan seorang kawan yang tengah dirundung kasmaran tingkat magister pulang belakangan. Inisialnya Fahri Ardiansyah.

Ngobrol berjam-jam soal banyak hal sepertinya sudah cukup untuk bekal penasaran dengan W.R Supratman. Film WAGE rencananya akan tayang di layar lebar 28 Oktober 2017 nanti. Sampai jumpa di Bioskop bung W.R dan terima kasih ‘bung’ Ndin.

Wira Wahyu Utama 

Tulisan ini pernah dimuat di blog pribadi wirajurnal.blogspot.com pada awal September 2017 lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *