6 Sifat Manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis *, masihkah relevan?

Pada tahun 1977, di Taman Ismail Marzuki (TIM), melalui pidatonya yang berjudul Manusia Indonesia, Mochtar Lubis mengupas sifat-sifat negatif orang Indonesia. Sifat-sifat manusia Indonesia yang disebutkan ialah munafik, tidak mau bertanggung jawab, berperilaku feodal, percaya pada takhayul, berbakat seni dan lemah karakternya.

Saat ini kita berada di tahun 2017, tepatnya 40 tahun setelah pidato tersebut disampaikan. Rasanya perlu kita lihat lagi pandangan Mochtar Lubis tersebut. Jangan-jangan ia benar? Sebab, sebagaimana kita tahu bagaiamana perkembangan situasi ekonomi, politik, soisal, dan budaya kita dewasa ini. Terlepas dari benar dan tidaknya atau setuju dan tidakkah terhadap pandangan Mochtar Lubis tersebut, kita sebagai generasi muda rasanya perlu kembali melihatnya.

Demikian uraian singkatnya;

  1. Hipokritis alias Munafik

Berpura-pura, lain di muka, lain di belakang. Mochtar Lubis memberikan salah satu contoh tentang kemunafikan kita, yakni mengenai seks.

“Di depan umum kita sangat mengecam penghidupan seks yang terbuka atau setengah terbuka. Tetapi kita membuka tempat mandi uap dan tempat pijit, kita mengatur tempat-tempat prostitusi, melindunginya, menjamin keamanan sang prostitut maupun pelanggan dengan berbagai sistem resmi, setengah resmi maupun cara swasta.”

  1. Segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, putusannya, kelakuannya, pikirannya, dan sebagainya.

Dalam sejarah kita dapat dihitung dengan jari pemimpin-pemimpin yang punya keberanian dan moralita untuk tampil ke depan memikul tanggung jawab terhadap suatu keburukan di dalam lingkungantanggung jawabnya.

  1. Feodal

Yang berkuasa sangat tidak suka mendengar kritik, dan orang lain teramat sungkan melontarkan kritik terhadap atasan. Bawahan takut mengemukakan pikiran-pikiran baru yang berlainan dari yang disenangi kaum “establishment”, dan tidak berani me-ngeluarkan kritik atau peringatan-peringatan agar jangan terus salah jalan, tidak berani menyampaikan fakta-fakta yang akan tidak menyenangkan sang bapak, sedang bapak-bapak sudah merasa puas diri adalah salah salah-tafsir sikap feodal, bahwa kuasa adalah sama dengan bijaksana, pandai, mahatahu segala, mahabesar senantiasa.

  1. Masih percaya takhayul

Kepercayaan pada jimat dan jampe untuk menjamin keselamatan membuat kita senang sekali membuat lambang. Mochtar Lubis menjelaskan ke-takhayaul-an tersebut dengan analogi sebagai berikut.

“Manusia Indonesia sangat cenderung percaya pada menara dan semboyan dan lambang yang dibuatnya sendiri. Negara kita berdasa Pancasial, kata kita semua, dan kita pun lalu mengaso, penuh keyakinan dan kepuasan, bahwa setelah mengucapkannya, makamasyarakat Pancasila itu telah tercipta. Tak ubahnya seperti tukang sulap yang mengucapkan bim salabim, nah…. keluar kelinci dari dalam topi.”

  1. Artistik

Sejak dari ratusan tahun tahun lampau sampai kini hasil daya cipta artistik manusia Indonesia telah diboyong ke luar tanah air kita, dan kini di museum-museum penting di Eropa, Amerika, dan berbagai negeri lain koleksi tembaga, tenun, batik, patung, ukiran,  merupakan koleksi yang dibanggakan.

Menurut Mochtar Lubis, ciri artistik inilah yang merupakan sumber dan tumpuan harapan bagi hari depan manusia Indonesia.

  1. Watak yang lemah

Manusia Indonesia kurang kuat dalam mempertahankan keyakinannya. Dia mudah dipaksa dan demi keadaan aman atau “survive”, bersedia mengubah keyakinannya. Maka gejala pelacuran intelektual amat mudah terjadi di Indonesia.

Demikianlah uraian singkat ciri manusia Indonesia dalam pidato kebudayaan Mochtar Lubis yang kemudian dibukukan dengan Judul Manusia Indonesia. Benar atau tidaknya, masih relevan atau tidaknya dengan masa sekarang, silahkan para pembaca untuk mempertimbangkannya sendiri. Tetapi ada baiknya sebelum memutuskan untuk seuju atau tidak setuju anda baca bukunya,

*) Mochtar Lubis lahir di Padang, 7 Maret 1922 – meninggal di Jakarta2 Juli 2004 pada umur 82 tahun). Wartawan senior ini turut mendirikan kantor berita Antara dan majalah sastra Horizon. Pada perkembangannya, bersama sejumlah intelektual ternama, ia mendirikan Yayasan Obor Indonesia, penerbit buku tempat ia dan para koleganya menyemai gagasan-gagasan cemerlang tentang berbagai isu strategis.

Pernah menjadi Presiden Press Foundation of Asia, anggota Dewan Pimpinan International Association for Cultural Freedom(organisasi CIA), dan anggota World Futures Studies Federation.

Novelnya, Jalan Tak Ada Ujung (1952 diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh A.H. John menjadi A Road With No End, London, 1968), mendapat Hadiah Sastra BMKN 1952; cerpennya Musim Gugur menggondol hadiah majalah Kisah tahun 1953; kumpulan cerpennya Perempuan (1956) mendapatkan Hadiah Sastra Nasional BMKN 1955-1956; novelnya, Harimau! Harimau! (1975), meraih hadiah Yayasan Buku Utama Departeman P & K; dan novelnya Maut dan Cinta (1977) meraih Hadiah Sastra Yayasan Jaya Raya tahun 1979. Selain itu, Mochtar juga menerima Anugerah Sastra Chairil Anwar (1992).

 

Sumber: Manusia Indonesia karya Mochtar Lubis (Yayasan Pustaka Obor Indonesia)

One thought on “6 Sifat Manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis *, masihkah relevan?

  • November 3, 2017 at 3:34 pm
    Permalink

    inspiratif sekali. terima kasihh👍👍👍

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *