Kupu-Kupu Malam, Pelacur, PSK, WTS, Gigolo, Lonte, hingga Sundal, Benarkah Istilah Mereka ?

Posted on

“….Dosakah yang dia kerjakan
Sucikah mereka yang datang
Kadang dia tersenyum dalam tangis
Kadang dia menangis di dalam senyuman…”

Nadanya sangat lirih. Sepenggal lirik tembang lawas, karya Titiek Puspa itu berhasil membius jutaan penikmat di blantika musik Indonesia.  Lagu yang diciptakannya di tahun 1976 dengan judul “Kupu-Kupu Malam”.

Seperti lagu kebanyakan, sepintas tak ada yang berbeda dengan musiknya . Iramanya tetap mengalir di setiap not-not nya. Namun sisi menariknya, lirik dari tembang yang melegenda ini, mengungkap realitas lain dari penyimpangan sosial. Dunia lain dari daya tarik seks, kecantikan, tubuh dan merias diri. Yang oleh orang-orang diistilahkan ‘penjajakan diri’.

Selain ‘Kupu-kupu Malam’ yang terasa puitis, istilah paling umum yang digunakan untuk menyebut perempuan yang biasa menjajakan diri adalah pelacur. Penulis novel Ca Bau Kan mengatakan, istilah ‘Kupu-Kupu Malam’ merujuk pada pemaknaan kupu-kupu yang indah tapi memiliki siklus hidup yang pendek, dianalogikan sebagai malam. Dia melanjutkan, kalau belum jadi kupu-kupu, kan jelek, tidak bisa dinikmati.

Sedangkan, kosakata pelacur, dengan kata dasar adalah ‘lacur’ merujuk kepada perilaku yang buruk, berarti malang, celaka, sial. Bentukan kata dari kata ‘lacur’ adalah melacur yaitu berbuat lacur atau menjual diri. Orang yang berbuat lacur disebut dengan pelacur. Jadi pemaknaan ‘Pelacur’ adalah orang yang melacurkan diri atau menjual diri.

Di masa orde baru yang gemar menghalus-haluskan sesuatu, istilah pelacur dirasa terlalu vulgar. Hingga pada 1996, istilah lain dibuat yang merujuk pada makna pelacur yang disebut Wanita Tuna Susila (WTS). Disebut sebagai WTS, karena si wanita tidak mempunyai susila, tidak beradab, tidak bersopan santun dalam berhubungan seks menurut norma masyarakat.

Eufemisme ini diresmikan dalam bentuk Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 23/HUK/96, pemerintah lebih mengakui wanita tunasusila (WTS).

Namun, dalam artikel Kuncoro dan Sugihastuti pada 1999 yang berjudul, “Pelacur, Wanita Tuna Susila, Pekerja Seks, dan ‘Apa Lagi’ : Stigmatisasi Istilah” mengungkapkan, eufemisme ini mengundang protes banyak orang. Mereka mempertanyakan bagaimana jika pelakunya adalah pria ? artinya, orang yang menjual diri itu berjenis kelamin pria. Mengapa dalam masyarakat tidak berkembang istilah Pria Tuna Susila (PTS) ?.

Dalam perkembangannya pelacur wanita kemudian dikenal oleh masyarakat dengan istilah WTS. Sedangkan pelacur pria disebut Gigolo. Gigolo merupakan laki-laki bayaran yang dipelihara oleh seorang wanita sebagai kekasih atau laki-laki sewaan demi pemenuhan seksualitas perempuan.

Lantas, bagaimana dengan istilah pekerja seks atau pekerja seks komersial (PSK), penggunaan istilah itu berkembang secara arbitrer di masyarakat. Bagi penulis feminis barat, istilah pelacur menjadi pekerja seks itu berakar dari terminologi sex worker yang diajukan oleh banyak penulis radikal. Namun, tidak sedikit pula menyebutnya sebgai prostitute di berbagi referensi menjelang 1996. Dalam bahasa Indonesia diistilahkan sebagai prostitusi yang berarti pertukaran hubungan seksual dengan uang atau hadiah-hadiah sebagai suatu transaksi perdagangan.

Kata lainnya untuk menyinonimkan kata pelacur ialah lonte. Sebagaimana judul lagu penyanyi legendaris Iwan Fals berjudul ‘Lonteku’. Lonte juga bersinonim dengan perempuan jalang, WTS, maupun pelacur.

Istilah yang tak kalah mengejutkan untuk menjebut pelacur adalah sundal, yaitu perempuan jalang. Berarti perempuan yang liar, nakal, dan melanggar norma susila.

Maka istilah kekinian, kata pelacur harusnya sudah bebas bias gender. Istilah ini, bisa digunakan merujuk pada pelacur wanita maupun pria. Tuntutan besar bagi masyarakat adalah berusaha sedikit menggeser pikirannya agar vonis terhadap istilah pelacur bukan hanya milik wanita/perempuan.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *