https://c1.staticflickr.com/9/8496/8280608775_77c4f1e35b_b.jpg

Ulasan : Kabar Dari Myanmar ?

Posted on

Kanesia.com, Myanmar – Kemarin, Laode Risman iseng bertanya soal bagaimana gejolak Myanmar yang heboh di media sosial. Pertanyaan itu muncul saat saya tengah membujuknya untuk kembali menulis di blog.

Jika boleh menebak, pertanyaan itu mungkin ada kaitannya dengan postingan laman facebook saya yang jarang menyinggung kekacauan itu. Risman tahu betul kalau saya gila urus terhadap isu seperti ini.

“Situasi di sana itu Rumit. Kita tak boleh mengambil kesimpulan hanya dengan melihat gambar-gambar kekerasan,” kata saya. Risman lantas bertanya balik, mungkin ia tidak puas dengan jawaban itu. Saya lalu bilang, kalau di sana itu persoalannya luas.

Api Di Camp Rohingnya, Sumber Foto : myanmar-now.org

Ada kelompok garis keras yang membabi buta, dan Pemerintah Myamnar seperti tak kuasa melawan(?). Mungkin karena ada kepentingan yang sulit dimengerti. Sampai disitu Risman mulai paham maksud saya.

Wartawan Ditangkap, Dari mana Informasi ?

Jauh sebelum dinding facebook penuh dengan hujatan tentang apa yang terjadi di Rakhine sana, saya sudah tahu kalau cepat atau lambat Myanmar akan ribut lagi.

Tanggal 31 Juli 2017, di twitter, saya meretweet sebuah artikel Time.com berjudul ‘ A Journalist Has Been Detained in Myanmar For ‘Defaming’ an Anti-Muslim Monk’

Tulisan itu memberikan informasi bahwa Swe Win, seorang wartawan Myanmar ditahan pihak pemerintah karena telah membuat materi (Barangkali rencana Laporan/Hasil investigasinya) tentang seorang biksu anti Islam.

Ia ditangkap di Bandara Internasional Yangon, sesaat sebelum bertolak ke Thailand. Pihak berwenang Myanmar menduga bahwa pemimpin Redaksi Myanmar-now.org itu pergi untuk menghindar dari tuntutan pidana penghinaan yang dituduhkan kepadanya.

Saat itu, menurut kabar media setempat, Swe Win akan ditahan di penjara Mandalay dan akan diadili atas tuduhan pencemaran nama baik seorang biksu yang dikenal getol menyebarkan paham anti muslim terhadap umat Budha di Myanmar bernama Wirathu. 

Tuntutan itu dibuat oleh pendukung ‘kelompok politik’ Ma Ba Tha yang mengklaim diri sebagai perkumpulan nasioanlis budha. Jika terbukti bersalah sesuai aturan hukum Myanmar, maka sanksi penjara selama tiga tahun adalah yang paling ringan bagi Swe Win.

Merujuk itulah, saya tidak pernah nyinyir seperti biasanya. Kekacauan Myanmar atau di sini acap diframing ‘Derita Islam Rohingnya’ sarat hoax. Dan, yang saya tahu jika suatu rezim sudah terang-terangan menangkap Wartawan, pasti di situ ada persoalan yang tidak main-main.

Karena itu juga, saya berani menarik kesimpulan bahwa apa pun informasi yang berbicara soal Myamnar kita patut kritis membacanya. Jangan menelan mentah, terlebih di situ ada sentimen agama yang berpotensi merongrong akal sehat.

Politik Pecah Bela

Di Indonesia, isu ini mengalir deras bahkan kerap dijadikan bahan saling gunjing. Bagaimana tidak, ini menyangkut kemanusiaan. Sayangnya, pada tataran aksiologi, upaya kita untuk terlibat dalam gejolak di Rakhine terkesan bias dan berujung nihil.

Misalnya, ada arus dominan yang muncul bahwa Pemerintah Indonesia anti Islam, karena tidak cepat tanggap menolong ‘saudara seiman’. Hal ini lalu direspon anasir lain (disebut pendukung pemerintah, ada juga yang bilang kecebong) dengan melakukan counter terhadap tudingan tersebut. Walhasil, waktu kita banyak terbuang hanya untuk bertengkar, sementara pada saat yang sama, banyak anak-anak kecil yang merintih di rohingnya.

Seumpama cuitan Wakil Ketua DPR-RI, Fadli Zon dan Fahri Hamzah yang melancarkan kritik terhadap Pemerintah terkait kasus ini. Atau postingan Politisi senior, Tifatul Sembiring yang mengunggah foto hoax. Dari situ, coba lihat bagaimana lini masa mereka didebat  dua anasir yang terbentuk atas dasar ‘politik luka lama’ pasca Pilpres 2014 dan Pilgub Jakarta 2017.

Untuk itu, kita tentu berharap agar persolan rohingnya yang pelik nan kusut itu jangan sampai membuat kita kembali terpecah belah. Saat ini kita butuh persatuan untuk turut andil dalam perdamaian dunia. Seperti tertuang di dalam pembukaan UUD 1945.

“..Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial..

Sampai tulisan ini dipost, saya membaca kabar kalau Pemerintah Myanmar menutup pintu bantuan kemanusiaan dari PBB. Masih perlukah kita kelahi?

 

Sumber : wirajurnal.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *